Showing posts with label Sejarah Kota. Show all posts

Buitenzorg Palace


"Every journey starts with a single step." – Confucius

"Buitenzorg Palace itu apa?" tanyaku pada seorang teman, yudith, yang mengenalkan kosakata "Buitenzorg" pertama kali padaku.

Oh ternyata Buitenzorg adalah nama yang diberikan untuk kota Bogor oleh orang-orang Belanda pada masa dulu, masa penjajahan tepatnya,. Buitenzorg artinya kota tanpa kecemasan, konon para gubernur jenderal Belanda dan Inggris yang penat dengan urusan politik di Jakarta pergi dan beristirahat di Bogor untuk bersantai. Hingga akhirnya dibangunlah tempat peristirahatan yang diberi nama Buitenzorg Palace. Setelah Indonesia merdeka, Buitenzorg Palace ini menjadi Istana Presiden. Hingga kini, istana ini hanya digunakan oleh Presiden Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Banyak koleksi-koleksi Presiden Soekarno yang disimpan dan dipajang di sini. Masyarakat umum bisa saja masuk dan melihat-lihat istana ini tetapi harus terlebih dulu mengurus perizinan kepada petugas.

Buitenzorg Palace

Buitenzorg Palace ini kemudian dikembangkan menjadi pusat penelitian tumbuhan dan hewan, yang kini kita kenal dengan nama Kebun Raya Bogor.


Pintu Utama Kebun Raya Bogor

Di dalam Kebun Raya Bogor ini ada banyak objek wisata yang bisa kita kunjungi. Mulai dari Monumen Lady Raffles, yang merupakan monumen untuk mengenang kepergian istri Sir Thomas Stamford Raffles, Lady Olivia Mariamne. Untuk bisa menikmati semua objek wisata itu, kita cukup membayar Rp. 14.000,00 di pintu masuk dan kita sudah bisa mengelilingi Kebun Raya Bogor.
Asal tahu saja, Kebun Raya Bogor ini sangat luas sekali, aku dan teman-teman pernah mengelilingi Kebun Raya Bogor dengan berjalan kaki dan itu sangaaaaaaaaaaaatttttt melelahkan! Hahahah :D. Jika mau mengelilingi Kebun Raya Bogor disarankan menggunakan mobil wisata yang tersedia di samping Garden Shop, dan tentu ada biaya tambahan :)

Ada juga Treub Laboratory yang merupakan tempat penelitian botani yang dulunya digunakan oleh Melchiour Treub, yang merupakan seorang ahli botani dari Belanda.

Museum Zoology, dulunya disebut kantor Bulao karena warnanya biru, menyimpan ribuan hewan yang diawetkan dan hewan tiruan yang ada di Indonesia.

Jembatan Merah yang fenomenal di kalangan remaja, karena mitosnya, sepasang kekasih yang melewati jembatan ini akan mengakhiri hubungan mereka, huhuhu.

Mau mencoba menanam dan melihat bibit-bibit bungan anggrek? Kita bisa bermain-main di Orchidarium. Bagaimana jika ingin menikmati keindahan bunga anggrek yang sudah bermekaran? Ratusan jenis anggrek yang sudah mekar dipajang di Griya Anggrek.

Monumen Lady Raffles

Treub Laboratory


Museum Zoology

Jembatan Merah

Orchidarium

Griya Anggrek


Looking at the beauty of Pink Orchid :)


Arrghh, like a paradise, lol! Ah, jadi inget pas di sini ngebayangin pre-wedding di sini pasti seru :p


Kecantikan itu seringkali tersembunyi, ini masih di Griya Anggrek loh

Yup, dari semua objek wisata yang ada di Kebun Raya Bogor sih aku rekomenin banget ke Griya Anggrek! Tempatnya cantik! Dan ga akan bosen deh muterin tempat ini dengan segala keindahan yang ada di dalamnya ;)




Wilujeng Sumping! Purwakarta Istimewa ...


Wilujeng Sumping! Purwakarta Istimewa ...

Ahh, minggu ini adalah minggu paling hectic sepertinya. Bolak-balik Jakarta-Bogor dan Jakarta-Bandung. Padahal, aku dan dua orang temanku sudah merencanakan akan bepergian ke Purwakarta di akhir pekan. Jadilah, Jumat pagi ke Bandung, dan Jumat malam aku menyusul teman-temanku di Kampung Rambutan menujut Purwakarta. Sayang sekali, aku datang amat sangat terlambat. Dan sudah tidak ada bus yang langsung ke Purwakarta.

Purwakarta, salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Letaknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Perjalanan ke Purwakarta dari Jakarta bisa ditempuh selama kurang lebih 3 jam dengan menggunakan bus Warga Baru dari Kampung Rambutan.

Purwakarta sendiri berasal dari kata "purwa" yang berarti permulaan atau awal, dan "karta" yang berarti ramai atau hidup. Motto dari Kabupaten Purwakarta adalah Wibawa Karta Rajarja. "Wibawa" berarti berwibawa atau penuh kehormatan, "karta" artinya ramai atau hidup, dan "Raharja" bermakna sejahtera atau makmur.


Peta Purwakarta

Karena berangkat dari Jakarta terlalu larut, sekitar pukul 11.00 malam sehingga kami menaiki Bus tujuan Bandung, dan turun di tol. Bus termalam dari Kampung Rambutan menuju Purwakarta itu pukul 20.00, dan harga normalnya adalah Rp. 25.000,00. Karena kami menaiki bus tujuan Bandung, kami dimintai biaya sebesar Rp. 40.000,00!

Sabtu dini hari, sekitar pukul 01.00 kami tiba di Maracang, Purwakarta. Dari sini kami akan menuju Badega Gunung Parang. Ohh ini dini hari! Di tengah desa antah berantah yang tidak kami tahu. Tidak ada kendaraan umum selarut ini di sini.

Dan inilah pengalaman yang benar-benar baru, aku bersama teman-teman berjalan kaki dari pinggir tol memasuki desa, yang kemudian kami tahu kalau itu adalah Desa Maracang. Ada tukang ojeg yang menawarkan diri mengantar kami ke gunung parang tapi dengan biaya Rp. 100.000,00! Ahhh, itu mahal sekali! Kami, yang hendak backpackeran ini sudah pasti menolak dan memilih berjalan kaki mencari jalan raya. Untuk sekedar memastikan adakah kendaraan umum? Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih baik untuk melanjutkan perjalanan kali ini.

Kami berjalan beberapa ratus meter dan memang jalanan sangat sepi! Kau tahu? Para abang ojeg tadi membuntuti kami, dan seraya memaksa bahwa tidak ada kendaraan umum, ayo naik ojeg saja. Diperlakukan seperti itu tentu kami semakin malas. Kami mempercepat langkah kaki kami, dan bertemu dengan bapak-bapak yang sedang meronda. Bapak-bapak yang baik hati!

Kata mereka, kami harus menunggu paling tidak sekitar pukul 03.00 atau 04.00, sampai ada elf menuju Plered, dan kemudian naik mobil kijang ke Badega Gunung Parang. Jadilah kita harus menunggu 2-3 jam. Badan sudah letih, dan mengantuk tentunya. Akhirnya kami berjalan ke SPBU dan merebahkan badan di musholla. Pukul 03.00 dini hari, aku dibangunkan Inel. Aku kaget, ramai suara di luar, aku pikir ini sudah subuh dan ada orang-orang yang hendak sholat. Oh, ternyata tidak! Mereka pelancong seperti kita sepertinya. Kami pun beranjak dari musholla menuju jalan raya, menunggu elf. Kita harus membayar Rp. 10.000,00 untuk menuju Plered. Kami menaiki elf bersama ibu-ibu dan bapak-bapak yang hendak ke pasar.

Sampai di Plered, dan hari masih gelap. Mobil Kijang baru beroperasi setelah Shubuh, jadilah kita harus menunggu lagi. Kami rebahan di pelataran markas TNI di area Masjid Agung di Plered. Ouuhh, ini sudah Purwakarta, tapi perjalanan masih panjang loh! Dan ini pengalaman pertama ku, melakukan perjalanan bermodal nekat di malam hari begini!

Akhirnya mobil kijang via Gunung Parang muncul! Langsunglah kami mengejar dan menaikinya! Kami masih harus menempuh perjalanan selama satu jam menuju Badega Gunung Parang. Biaya naik kijang ini sebesar Rp. 15.000,00.

Voila! Sampailah kita di Badega Gunung Parang. Badega Gunung Parang ini semacam tempat wisata, tempat menginap yang langsung menghadap ke Gunung Parang. Serba hijau! Sejuk! Dan yang pasti bisa menyegarkan mata, setelah semalaman terlunta-lunta dan kelelahan dalam perjalanan.

Inilah Badega Gunung Parang dengan segala keindahan dan kesejukannya:


Bale Ngaso dan Kolam Ikan


Bale Semah





Yup! Karena kami kelelahan, setelah sarapan kami merebahkan diri sejenak, mandi dan akhirnya melangkahkan kaki untuk mengeksplor kampung Cihuni ini, dan menuju Waduk Jatiluhur.


Ayo jalan-jalan! Telusuri Kampung Cihuni!

Di sini kendaraan umum susah sekali, hanya ada mobil kijang ke Plered itu pun jarang-jarang. Jadilah kami berjalan kaki. Selama perjalanan kita bisa melihat-lihat aktivitas masyarakat, bertani, berternak, dan berdagang. Kita bisa melihat adik-adik kecil yang masih bermain-main dengan tanah, memanjat pohon, jauh dari gadget!

Ini beberapa pemandangan yang bisa kita lihat sepanjang perjalanan eksplor kampung menuju Waduk Jatiluhur:

Sapinya aki, guide lokal yang besok akan menemani kami mendaki Gunung Parang


Padinya sudah mulai menguning! Siap dipanen.


Yang dibelakang itu, Penampakan Gunung Lembu


Penampakan Waduk Jatiluhur sudah terlihat, tapi perjalanan masih jauh looohhh :p

Rasanya kami sudah berjalan jauuuhhhh sekali, beratus-ratus meter tapi belum menemukan dermaga yang menyediakan kendaraan bargas untuk kita naiki menuju waduk jati luhur nih, hahah. Kaki sudah gempor bok!
Beruntungnya kami, di tengah jalan bisa menumpang mobil pick up menuju kota/jalan raya untuk naik angkot ke waduk Jatiluhur.


Bahagia kami naik pick up!

Dan akhirnya dengan segala perjuangan yang kami lakukan, sampailah ke waduk Jatiluhur. Mencoba menaiki onthel gantung di atas waduk jati luhur, naik bargas ke tengah danau untuk makan siang di karamba, dan akhirnya naik bargas lagi menuju kampung Citerbang, dan kembali ke Badega Gunung Parang.


Karamba

Karamba itu tempat makan apung di tengah Waduk Jatiluhur, menyediakan segala jenis ikan pastinya :). Harganya cukup terjangkau loh, enak dan kenyang pastinya :)









Aku Diponegoro: Menyelami Sejarah Masa Silam di Galeri Nasional

Aku bersama dengan Dunan dan Hamster, pagi itu berangkat menuju Kota Tua dari Senayan. Kami mau melihat pementasan wayang beber metropolitan di Museum Wayang.
Acara sudah usai, tapi hari masih siang. Kami yang doyan jalan ini akhirnya melanjutkan jelajah kami ke Galeri Nasional.

Galeri Nasional adalah museum dan pusat kegiatan seni rupa untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan koleksi seni rupa sebagai sarana edukasi –kultural dan rekreasi, serta sebagai media peningkatan kreativitas dan apresiasi seni. Museum ini berada di kawasan Medan Merdeka dekat dengan Monas, dan Gambir.

Minggu, 22 Februari aku mengunjungi Galeri Nasional dan kebetulan sedang ada pameran tentang Aku Diponegoro. Acara ini tidak dipungut biaya, kita tinggal mendaftar dan menitipkan semua barang bawaan kita ke panitia (hp dan kamera diperbolehkan untuk dibawa).
Siang itu pengunjung yang hendak melihat pameran ini sangat ramai, sehingga kita harus mengantri dan waktu kunjungan dibatasi selama 15 menit saja. Sayang sekali, karena banyak objek yang dipamerkan, tetapi waktu kunjungan cepat sekali.

Nah ini dia, objek-objek yang sempat diabadikan :D


Pameran ini bertajuk "Aku Diponegoro, Pangeran Dalam Ingatan Bangsa"
Jika Diponegoro adalah Pangeran dalam ingatan bangsa, lalu mau kah kau jadi pangeran dalam ingatanku? #ehh *salah fokus* :p

Ya, siapa yang tak kenal dengan Pangeran Diponegoro? Salah seorang pejuang Indonesia di masa silam, yang selalu diceritakan dan diajarkan kisahnya dalam pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah.


Sosok Pangeran Diponegoro


Ini adalah salah satu lukisan yang telah dikurasi (diperbaiki), menggambarkan tentang penghianatan orang Belanda yang dilakukan di masa silam kepada Pangeran Diponegoro


Mereka Ditodong Senjata!


Quotes of the Day!


Wayang

Wayang-wayang itu dibuat oleh RM Koeswadji Kawendra Susanta untuk memberikan inspirasi atas perjuangan Pangeran Diponegoro, turut merebut kemerdekaan. Wayang-wayang ini didatangkan dari Muswum Wayang Kekayon.

Ini adalah salah satu tembok di sudut-sudut Galeri Nasional

I do Insane? or Indonesia? You tell me!



Bersama Dunan dan Hamster, partner jalanku hari ini :D

Yaaap, sudah keliling-keliling, dari satu gedung ke gedung lainnya di kawasan Galeri Nasional dan puas menikmati pameran lukisannya. Mari pulang

Main Arung Jeram di Sungai Cicatih

SIAPA SUKA MAIN AIRRRRR ???

GUE SIH SUKA BANGEETTTT !!!

Jadilah gue ikutan ngetrip ke Sukabumi sama anak-anak Backpacker Jakarta buat Rafting. Ini kali kedua gue ikutan ngetrip bareng mereka, sebelumnya gue ikutan trip ke Pulau Air.

Sabtu sore, 13 Desember 2014, kita pada ngumpul di halte Cawang Uki. Kita akan berangkat bareng ke Pelabuhan Ratu naik bus yang udah disewa. Karena macet dan lain sebagainya, malam hari setelah isya barulah kita jalan menuju Pelabuhan Ratu.

Pantai Pelabuhan Ratu ada di pesisir selatan Jawa Barat. Pantai ini terkenal dengan pantainya yang ombak yang besar dan kuat, sangat cocok untuk berselancar. Sepanjang pantai kita bisa menemukan banyak restoran hidangan laut. Masyarakat setempat juga memiliki kepercayaan pada Ratu Kidul, sang penguasa laut selatan.


Sesampainya di Pelabuhan Ratu, kita mendirikan tenda dan ngobrol-ngobrol, curhat-curhatan, mainan kartu, nyanyi, lihatin bintang, foto-foto dan bergalau ria mungkin? Hahahah :D
Kebiasaan banget, kalau acara gini, pasti gue tidur udah hampir pagi, karena gue suka menikmati suasananya, suasana malam di dekat pantai, semilir angin yang sepoi-sepoi, suara deburan ombak, langit yang ditaburi bintang-bintang, yang gak akan kita temui di Jakarta!


Langit yang kami pandangi malam itu ~
Foto oleh Bagus

Pagi hari, aku dan Mba Vita (kenalan baru nih di trip ini, yang sekarang malah ikutan jadi volunteer bareng di Sobat Budaya Jakarta) jalan-jalan menyusuri pantai dan foto-foto dong :D


Anak Pantai wanna be ~


Ini sama Mba Vita

Karena ini ngetrip ala backpacker, kita tidur di tenda, dan masak-masak sendiri pake kompor portable dan nesting ala anak gunung :D


Masih ada yang bobok-bobok


Makan bersama setelah masak-masak bersama

Hari sudah cukup siang, kita berbenah dan meluncur ke Sukabumi! Menuju Sungai Titatih buat rafting! Yeaayy :D

Sungai Cicatih, bisa dibilang salah satu alternaif sungai yang bisa dijadikan pilihan buat permainan arung jeram. Di Sukabumi, arung jeram di Sungati Citatih ini cukup populer.

Waktu itu rombongan trip kami, pilih paket rafting sepanjang 13 KM di Niagara Rafting! Waw! Panjang dan lumayan lama loh, sekitar 2 jam. Sungai ini cukup dalam, arusnya juga deras.


Sembari menunggu peralatan rafting disiapkan, foto-foto dulu yaaahh :)

Ketika mau rafting kita disuruh mengenakan pelampung, topi pelindung kepala, dan membawa dayung masing-masing. Setelah mengenakan peralatan, kita di-briefing dulu oleh pelatih, bagaimana cara mendayung dan apa yang harus dilakukan selama ber-rafting ria :D


Pasukan sudah siap meluncur! :D

Perahu karet yang aku tumpangi di isi oleh 6 orang, dengan 1 pemandu. Pemandunya juga selalu memberikan informasi sepanjang perjalanan. Ada banyak nama untuk setiap pusaran, namanya lucu-lucu dan menarik. Aku tak ingat pasti semua nama-nama itu, tapi ada yang namanya pusaran asmara karena ada yang pernah nembak di situ dan akhirnya pacaran, pusaran gigi patah dan lain sebagainya.


Salah satu keseruan saat rafting

Selama rafting ini aku turun sekali untuk berenang di sungai yang aliran sungainya tenang, dan jatuh sekali ketika pusaran air cukup deras! Awalnya sangat panik! Tapi, ini pengalaman yang seru!


It's so much fun!



Rafting pun berakhir!
Kami membersihkan diri dan menikmati air kelapa muda yang telah disiapkan. Niagara rafting juga sudah menyediakan fasilitas pijit dan makan.

Hari sudah semakin sore dan gelap, kami pun pulang kembali ke Jakarta.

Explore Oud Batavia

Sabtu pagi, 14 Maret 2015, aku bergegas ke Shelter TransJakarta Bunderan Senayan menuju Kota Tua. Ya, hari ini aku dan teman-teman dari Sobat Budaya Jakarta dan Culture Trip ID akan meng-Explore Oud Batavia!

Oud Batavia atau yang sekarang dikenal sebagai Kota Tua Jakarta, dulunya adalah tempat pemukiman orang-orang dari berbagai pelosok Nusantara yang berdagang dan berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kemudian lama-lama bermukim di kawasan ini. Tidak hanya orang pribumi, tetapi juga orang-orang dari Melayu, Arab, Tiongkok, Belanda, Portugal, Inggris dan yang lainnya.

Kawasan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa akhirnya dibangun dan menjadi pemukiman yang dinamai Batavia. Nama Batavia ini pun kemudian bergeser menjadi Betawi. Karena pemukiman ini terdiri dari orang-orang dari berbagai wilayah dan kebudayaan, maka budaya Betawi adalah hasil akulturasi dari berbagai budaya tersebut, oleh karena itu budaya Betawi disebut juga sebagai budaya mestizo.
Ya itu aja sih secuil sejarah tentang Oud Batavia hehee :D

Yup, mari kita Explore Oud Batavia!

Sebetulnya ada banyak banget objek wisata dan objek budaya yang ada di kawasan Kota Tua. Tapi kali ini, aku dan teman-teman cuma berkunjung ke beberapa tempat nih, Museum Wayang, Perpustakaan Museum Fatahillah, Rumah Akar, Museum Bahari dan Menara Syahbandar. Maklum mengitari itu saja sudah bikin kaki gempor heheee.

Objek-objek wisata dan budaya yang lainnya, akan ditulis nanti-nanti ya, di session Explore Oud Batavia part 2! :D

Museum Wayang!



Museum ini jadi destinasi pertama nih di kegiatan Explore Oud Batavia ini. Untuk masuk ke Museum Wayang kita cukup membayar tiket seharga Rp. 5.000,00 (dewasa), dan Rp. 3.000,00 jika kita menunjukan kartu mahasiswa atau kartu pelajar.

Aku memang sudah beberapa kali menyambangi tempat ini, tapi seakan tak pernah habis untuk dieksplorasi! Selalu ada objek-objek yang baru sempat aku lihat, atau karena memang aku kurang jeli dan perhatian sama kamu? Eh sama objek-objek budaya yang ada di Museum Wayang maksudnya.

Jadi di sabtu pagi ini museum wayang ini masih (amat) sepi. Ketika bertanya ke petugas, petugas menceritakan kalau, museum akan mulai ramai di siang hari dan sore hari. Dan juga, setiap hari Minggu biasanya akan ada pentas budaya yang rutin digelar. Jadi, kalau kamu mau ke Kota Tua, terutama mau ke Museum Wayang lebih baik di hari Minggu. Aku sendiri beberapa minggu lalu, ke Museum Wayang dan ada gelaran Wayang Beber Metropolitan. Gelaran wayang ini menarik, karena biasanya aku melihat gelaran wayang kulit atau wayang golek. Aku baru melihat gelaran wayang beber ini pertama kali.


Ini Ivo, salah satu teman yang ikutan acara Explore Batavia. Tapi aku bukan mau kenalin Ivo-nya yah :p. Nah itu di belakang Ivo, ada semacam workshop yang jual pernak-pernik dan ornamen-ornamen etnik dan wayang-wayangan

Muter-muter dan foto-foto di Museum Wayang sudah! Perut terasa lapar yah, maklum pagi-pagi ke Kota Tua tanpa sarapan dulu. Akhirnya aku dan teman-teman makan nasi pecel di pelataran depan Museum Kota Fatahillah.


Ini Rahma, teman kuliahku, sebelum makan selfie dulu ya sama Simbok yang jualan pecel :p

Perpustakaan Museum Fatahillah

Nah ini salah satu tempat yang baru aku lihat setelah beberapa kali main-main ke Kota Tua Jakarta. Jadi, perpustakaan ini adalah semacam perpustakaan mini yang hanya pakai tenda seukuran kurang lebih, berapa ya, 20x10 meter mungkin, di pelataran depan museum wayang.
Perpustakaan ini menyediakan cukup banyak koleksi buku, terutama buku-buku tentang budaya, betawi, nusantara dan Indonesia.

Dijaga oleh seorang bapak tua yang berpakaian nyentrik. Ya! Nyentrik, karena mengenakan baju seperti baju adat orang Madura, warna coklat dan garis-garis, serta pakai topi bulat seperti orang londo (orang belanda) jaman dulu. Topi yang bisa kita lihat di penyewaan sepeda depan Museum Fatahilah. Dan Bapak ini juga memarkir sepeda onthelnya di depan perpustakaan ini. Bapak ini juga sudah hafal dengan kawasan Kota Tua hingga Sunda Kelapa, aku sempat bertanya-tanya kepada bapak ini, bagaimana aku dan teman-teman bisa menuju Museum Bahari yang lokasinya berada di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.

Di sini tersedia beberapa kursi lipat yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk-duduk sembari membaca buku. Pagi itu, ada beberapa anak-anak yang sedang asik memilih buku dan membaca buku.


Nah ini dia sedikit penampakan dari Perpustakaan Museum Fatahillah

Rumah Akar
Rumah akar ini, konon katanya seram. Banyak pengunjung yang mengalami kejadian-kejadian mistis di sini. Tapi, banyak juga loh orang-orang yang melakukan foto pre-wedding di sini. Untuk masuk ke dalam, biayanya cukup mahal, Rp.100.000 untuk 8 orang per lima belas menit. Hohohoho ~





Museum Bahari



Museum Bahari ini lokasinya cukup jauh dari Kawasan Kota Tua, kita harus naik angkot sekali menuju Museum Bahari. Ini pertama kalinya aku ke Museum Bahari dan ke kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Untuk masuk ke Museum Bahari sama saja seperti masuk ke Museum Wayang, cukup membayar tiket seharga Rp. 5.000,00 (dewasa), dan Rp. 3.000,00 jika kita menunjukan kartu mahasiswa atau kartu pelajar.

Museum ini sangat besar, ada beberapa bangunan dan terdiri dari beberapa tingkat. Tapi, museum ini sungguh sangat sepi. Ketika di depan museum bahari, kami hanya melihat beberapa orang wisatawan.

Museum ini banyak menampilkan koleksi perahu-perahu kayu, seperti kayu Phinisi dan beberapa jenis perahu lain di lantai 1. Aku kurang tertarik dengan objek-objek ini.


Berlayar yuk dengan bahtera (kapal) ini, Bahtera rumah tangga :p

Kemudian, naik ke lantai 2. Daaaannnn, pemandangan di lantai 2 ini benar-benar membelalakkan mataku! Kereeeenn loh!

Di lantai 2 ini ada berbagai macam objek budaya, patung-patung, film, cerita dan dongeng yang dipajang dan ditata dengan cantik. Mengisahkan sejarah maritime dan bahari Indonesia masa lampau. Ada juga beberapa objek yang memiliki sensor khsusus, sehingga ketika ada pengunjung yang mendekat, secara otomatis akan terputar film documenter tentang sejarah maritim masa lalu.


Wow ada putri duyung!

Ada juga semacam toko (bukan toko betulan yang pasti) rempah-rempah. Di dalam toko tersebut kita bisa melihat beberapa jenis rempah-rempah Indonesia, seperti kayu manis, cengkeh, kunyit, jahe dan ada beberapa jenis rempah yang aku baru tahu.


Rempah-rempah Nusantara. Yang dulu jadi komoditi perdagangan utama di Nusantara

Selama berjalan menyusuri bangunan ini di lantai 2, di gedung yang berbeda, kita juga menemukan perpustakaan bahari. Sayangnya, perpustakaan ini tutup, sehingga aku tidak bisa melihat-lihat ke dalam perpustakaan.


Ini dia perpustakaannya, dan please abaikan yang foto itu !

Di penghujung ruangan kita juga bisa melihat ada alat pengerek untuk menaik-turunkan benda dari lantai 1 ke lantai 2 dan sebaliknya.


Ini dia alat pengereknya, dan itu bukan penampakan! Itu Indah, hehee :D

Memasuki sisi gedung yang lainnya, kita juga melihat ada Café Bahari. Dan, tempat ini juga tutup, padahal kami amat kehausan dan kelaparan, selain kepo dengan isi café bahari tentunya kami juga ingin menikmati sajian makanan dan view dari café ini.


Ini Museum Bahari yang tutup itu huhuhu :(


Ini salah satu view di pelataran Museum Bahari. Sekilas mirip Lawang Sewu yah, hehee :D

Sebetulnya masih banyak objek-objek yang menarik di Museum Bahari ini. Dan buat kamu yang ada di Jakarta tapi belum pernah ke sini, coba deh sekali-sekali kesini, worth it to visit deh tempatnya :)

Menara Syahbandar

Menara ini cukup tinggi, dan kita harus menaiki tangga demi tangga untuk sampai ke bagian teratas dari menara ini. Capek! Ketika menaiki tangga demi tangga yang berwarna merah itu, yang terlintas dipikiranku adalah, “wah ini seperti museum Anne Frank”, hahaha. Ya, aku memang belum pernah ke Museum Anne Frank, tapi aku pernah membaca tulisan tentang museum ini.


Narsis di Menara Syahbandar

Setelah, menaiki tangga demi tangga, dengan nafas yang tersengal-sengal akhirnya sampai juga di bagian teratas dari menara ini. Di bagian ini, ada 3 sisi (seperti jendela) yang terbuka, sehingga kita bisa melihat Oud Batavia dari atas. Sejauh mata memandang aku bisa melihat beberapa kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa. “Oh itu toh yang namanya Pelabuhan Sunda Kelapa” gumamku dalam hati. Pelabuhannya kecil menurutku, dan tidak terlalu banyak aktivitas yang kulihat pada siang hari itu. Dan siapa sangka, kalau dahulu kala, pelabuhan ini adalah pelabuhan yang memiliki aktivitas perdanganan sangat tinggi, dan juga menjadi tempat bersejarah, cikal bakal Jakarta di masa sekarang.

Dari atap menara ini aku bisa melihat pelubuhan Sunda Kelapa dan kapal-kapal yang sedang bersandar. Aku juga bisa melihat bangunan peninggalan VOC di seberang jalan.

Dan akhirnya kaki ini berlabuh ke Taman Ismail Marzuki. Tempat yang menjadi favorit akhir-akhir ini. Tempat yang memiliki kisah dan ceritanya sendiri, dalam penggalan perjalananku.