Menyusuri Sungai Sei Gohong, Desa Wisata Budaya Palangkaraya


Bulan April lalu aku menjajakan kaki di tanah Palangkaraya. Tanah yang konon akan menjadi tempat pengganti Jakarta sebagai ibu kota. Palangkaraya, yang berada di Pulau Kalimantan ini tentunya erat dengan masyarakat dayak dan kebudayaannya ya.

Jalan-jalan singkat (cuma dua hari) di Palangkaraya menuntutku untuk jadi traveler yang mandiri ya dan ga boleh manja. Harus bisa mengatur waktu di sela-sela tugas untuk berkeliling dan meng-explore kota ini. Di sini, aku menyambangi beberapa tempat. Namun, destinasi yang paling menarik perhatianku adalah Desa Wisata Sei Gohong. Sebuah desa wisata dan budaya yang terletak di Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Sore itu, 20 April, aku bersama dengan Mba Nur dan adik-adik dari Bina Cita Utama School ke Dermaga Sei Gohong untuk menyusuri sungai besar ini dan melihat penangkaran orang utan yang tinggal di hutan-hutan di kanan-kiri sungai. Meskipun kami kesana sudah terlalu sore, beruntung sekali kami bisa melihat satu orang utan yang menampakan dirinya di pinggir sungai. Jadi ga rugi ya aku sekali kesana dan bisa melihat langsung orang utan yang dilindungi dan dijaga. Dan, ini adalah kali pertama aku lihat orang utan secara langsung :D

Pemandangan di Dermaga Sei Gohong

Dermaga Sei Gohong

Bersama Mba Nur dan adik-adik BCU School

Orang Utan

Semburat Senja di Sungai Sei Gohong

Sore itu, perjalanan kami ditutup dengan semburat senja yang kami lihat dari atas perahu. Terus ada apa lagi ya di Desa Wisata Sei Gohong? Di dekat dermaga ini, ada juga bale untuk pertemuan dan sandung, tempat penyimpanan tulang masyarakat dayak yang telah melalui upacara tiwah. Penasaran? Read more :p

Sandung

Penjaga Sandung

Patung Penjaga Sandung Membawa Tombak

Suku Dayak adalah suku asli yang mendiami wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, kita akan banyak menemui Suku Dayak Ngaju. Banyak dari mereka masih menganut kepercayaan Kaharingan. Dalam kepercayaan ini ritual kematian adalah bagian paling tinggi dalam tatanan budaya dayak. Karena, kematian dianggap sebagai awal dari perjalanan panjang menuju sebayan (alam setelah kehidupan).

Untuk memberikan bekal bagi arwah yang telah meninggal, jasad suku dayak ngaju akan diupacarai tiwah dan tulang belulangnya akan disimpan di dalam sandung. Sandung ini terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Keluarga yang hendak melaksanakan upacara tiwah dan membangun sandung, membutuhkan biaya yang sangat besar, karena kebutuhan syarat upacara yang mahal dan upacara ini diselenggarakan selama seminggu penuh.

Wah, Nusantara ini memang punya keunikan ya di setiap jengkal tanahnya, mulai dari suku, budaya dan wisatanya. Jadi setelah ini, akan explore kemana lagi?

---
Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs jadimandiri.org.

No comments

your comment awaiting moderation