No comments


Aku tau tentang Gerakan Sejuta Data Budaya (GSDB) pada bulan April 2014. Aku dikenalkan dengan Mas Vande, koordinator GSDB oleh temanku, Ruth.

Di awal pertemuan, Mas Vande dan Mas Billy, menceritakan sedikit cerita tentang GSDB dan Komunitas yang mendukung gerakan ini, Komunitas Sobat Budaya. Mereka menuturkan tentang upaya pendataan budaya, untuk mencegah klaim dan kepunahan budaya. Data budaya tersebut pun akan di bawa ke WIPO (World Intellectual Property Organization), sebuah badan di bawah PBB untuk mendorong kreativitas dan memperkenalkan perlindungan kekayaan intelektual ke seluruh dunia. [1]

Sebagai anak lulusan Sosial Politik/Hubungan Internasional, tentunya aku semakin penasaran.

Tak puas dengan sedikit cerita yang dituturkan oleh Mas Vande dan Mas Billy, aku pun mulai mencari tahu sendiri tentang GSDB dan Sobat Budaya, dengan bantuan google tentunya :).

Tak sangka kalau, @infobudaya , adalah bagian dari kampanye Gerakan ini. Aku follow @infobudaya sudah lama, dan kupikir akun ini milik pemerintah, ternyata tidak! Akun ini dibuat dan dikelola oleh sekelompok anak muda dari Bandung Fe Institute, cerdas tentunya dan aware dengan budaya Indonesia. Salut dengan mereka!

Dan aku mulai bergabung dengan gerakan ini sejak Mei 2014. Siapa sangka, kini aku menjadi pengurus @infobudaya & @sobatbudaya.

Semakin lama, bergabung dengan GSDB dan Komunitas Sobat Budaya, membuatku semakin takjub dengan hasil penelitian dari teman-teman BFI (Bandung Fe Institute) tentang kebudayaan. Salah satunya adalah tentang Batik Fraktal dan tentunya masih banyak yang lainnya.

Banyak yang mengatakan budaya Indonesia itu kaya, indah, dan beragam. Namun, budaya-budaya itu hanya dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tidak dituliskan secara rapi seperti orang-orang Barat. Itulah kelemahan, bangsa kita dalam menjaga budaya, hanya disampaikan secara lisan.

INDONESIA MEMANG KAYA AKAN BUDAYA, TETAPI KALAU TIDAK ADA YANG CONCERN UNTUK MELESTARIKAN DAN MENGINVENTARISIR DATA BUDAYA YANG ADA, MAKA KITA AKAN LUPA KALAU INDONESIA ITU KAYA AKAN BUDAYA.

Kalau banyak orang beranggapan, budaya barat dianggap lebih tinggi, itu karena orang-orang barat menjunjung tinggi budaya tulis, mereka menuliskan kekayaan budaya mereka. Sehingga, budaya mereka tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh banyak orang.

Sedangkan, kebanyakan orang Indonesia terbiasa dengan budaya tutur, pengetahuan yang mereka miliki hanya diceritakan tak dituliskan.

Maka dari itu, para anak muda yang menginisiasi GSDB membuat sebuah Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) yang bisa diakses secara bebas oleh seluruh masyarakat Indonesia.

KOMUNITAS SOBAT BUDAYA MENGKAMPANYEKAN GERAKAN SEJUTA DATA BUDAYA SETIAP SAAT. KOMUNITAS INI MENGAJAK SELURUH MASYARAKAT INDONESIA UNTUK TURUT SERTA SECARA GOTONG ROYONG MENDATA BUDAYA TRADISI NUSANTARA KE PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA (PDBI).

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) ini merupakan web versi 2.0 mirip dengan wikipedia. Situs ini dapat disunting, dan didiskusikan bersama oleh para pengguna/pemilik akun.

Ada 14 kategori budaya yang terdapat di situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA. Pemilihan 14 kategori ini dipilih berdasarkan panduan UNESCO. Empat belas kategori budaya tersebut yaitu Alat Musik, Cerita Rakyat, Makanan Minuman, Motif Kain, Musik dan Lagu, Naskah Kuno dan Prasasti, Ornamen, Pakaian Tradisional, Permainan Tradisional, Produk Arsitektur, Ritual, Seni Pertunjukan, Senjata dan Alat Perang, Tarian, Tata Cara Pengobatan dan Pemeliharaan Kesehatan.

JIKA DATA BUDAYA YANG TERKUMPUL TERSEBUT TELAH DIDAFTARKAN KE WIPO DAN DIAKUI OLEH DUNIA, MAKA HAL INI MENJADI BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI BUDAYA INDONESIA.

Tentu kita tak mau budaya Indonesia diklaim oleh negara lain. Dan tentu kita pun tak ingin, kalau kekayaan budaya Indonesia hanya sekedar cerita dan dongeng belaka. MAKA DARI SEKARANG, OLEH KITA SEMUA, MARI KITA MENJAGA, MELESTARIKAN DAN MENDATA BUDAYA TRADISISI NUSANTARA BERSAMA-SAMA. MULAI DARI BUDAYA YANG TERDEKAT DENGAN KEHIDUPAN KITA!



“Masih banyak cerita tentang budaya Indonesia,GSDB dan Sobat Budaya…”

[1] Convention Establishing the World Intellectual Property Organization, ditandatangani di Stockholm pada tanggal 14 Juli 1967, Pembukaan, paragraf kedua.
No comments

"Every journey starts with a single step." – Confucius

"Buitenzorg Palace itu apa?" tanyaku pada seorang teman, yudith, yang mengenalkan kosakata "Buitenzorg" pertama kali padaku.

Oh ternyata Buitenzorg adalah nama yang diberikan untuk kota Bogor oleh orang-orang Belanda pada masa dulu, masa penjajahan tepatnya,. Buitenzorg artinya kota tanpa kecemasan, konon para gubernur jenderal Belanda dan Inggris yang penat dengan urusan politik di Jakarta pergi dan beristirahat di Bogor untuk bersantai. Hingga akhirnya dibangunlah tempat peristirahatan yang diberi nama Buitenzorg Palace. Setelah Indonesia merdeka, Buitenzorg Palace ini menjadi Istana Presiden. Hingga kini, istana ini hanya digunakan oleh Presiden Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Banyak koleksi-koleksi Presiden Soekarno yang disimpan dan dipajang di sini. Masyarakat umum bisa saja masuk dan melihat-lihat istana ini tetapi harus terlebih dulu mengurus perizinan kepada petugas.

Buitenzorg Palace

Buitenzorg Palace ini kemudian dikembangkan menjadi pusat penelitian tumbuhan dan hewan, yang kini kita kenal dengan nama Kebun Raya Bogor.


Pintu Utama Kebun Raya Bogor

Di dalam Kebun Raya Bogor ini ada banyak objek wisata yang bisa kita kunjungi. Mulai dari Monumen Lady Raffles, yang merupakan monumen untuk mengenang kepergian istri Sir Thomas Stamford Raffles, Lady Olivia Mariamne. Untuk bisa menikmati semua objek wisata itu, kita cukup membayar Rp. 14.000,00 di pintu masuk dan kita sudah bisa mengelilingi Kebun Raya Bogor.
Asal tahu saja, Kebun Raya Bogor ini sangat luas sekali, aku dan teman-teman pernah mengelilingi Kebun Raya Bogor dengan berjalan kaki dan itu sangaaaaaaaaaaaatttttt melelahkan! Hahahah :D. Jika mau mengelilingi Kebun Raya Bogor disarankan menggunakan mobil wisata yang tersedia di samping Garden Shop, dan tentu ada biaya tambahan :)

Ada juga Treub Laboratory yang merupakan tempat penelitian botani yang dulunya digunakan oleh Melchiour Treub, yang merupakan seorang ahli botani dari Belanda.

Museum Zoology, dulunya disebut kantor Bulao karena warnanya biru, menyimpan ribuan hewan yang diawetkan dan hewan tiruan yang ada di Indonesia.

Jembatan Merah yang fenomenal di kalangan remaja, karena mitosnya, sepasang kekasih yang melewati jembatan ini akan mengakhiri hubungan mereka, huhuhu.

Mau mencoba menanam dan melihat bibit-bibit bungan anggrek? Kita bisa bermain-main di Orchidarium. Bagaimana jika ingin menikmati keindahan bunga anggrek yang sudah bermekaran? Ratusan jenis anggrek yang sudah mekar dipajang di Griya Anggrek.

Monumen Lady Raffles

Treub Laboratory


Museum Zoology

Jembatan Merah

Orchidarium

Griya Anggrek


Looking at the beauty of Pink Orchid :)


Arrghh, like a paradise, lol! Ah, jadi inget pas di sini ngebayangin pre-wedding di sini pasti seru :p


Kecantikan itu seringkali tersembunyi, ini masih di Griya Anggrek loh

Yup, dari semua objek wisata yang ada di Kebun Raya Bogor sih aku rekomenin banget ke Griya Anggrek! Tempatnya cantik! Dan ga akan bosen deh muterin tempat ini dengan segala keindahan yang ada di dalamnya ;)