3 comments
Kamu suka jalan-jalan? Biasanya jalan kemana dan ngapain? Snorkling atau diving di tengah laut? Lihat sunset dan sunrise di pantai? City trip? Wisata kuliner? Atau naik gunung?

Dari beragam tipe-tipe jalan tadi, salah satu yang terasa berat dan butuh bekal khusus pastinya naik gunung. Dulu, aktivitas naik gunung bakal lekat banget sama anak-anak mapala atau anak-anak pecinta lingkungan yang terkesan kuat, gahar dan mandiri banget. Jauh beda sama kondisi sekarang, naik gunung bisa dijalanin oleh siapa pun, orang kantoran, kaum sosialita, bahkan ibu rumah tangga.

Aku sendiri, yang tergolong sebagai orang kantoran, mulai punya keinginan untuk bisa mendaki gunung sejak tahun 2015. Alasannya sederhana, ingin keluar dari rutinitas dan hiruk pikuk pekerjaan dan bisingnya ibu kota. Dan tentunya menyegarkan mata, pikiran dan perasaan dengan pemandangan dan suasana yang menenangkan yang akan disuguhkan alam semesta.

Pemandangan Gunung Meranti dari Kawah Ijen

Pemandangan pegunungan bernuansa biru dengan gumpalan awan dan hamparan pepohonana berwarna hijau seperti gambar di atas tentu menjadi salah satu daya tarik dan sekaligus daya dorong untuk mendaki gunung. Pemandangan seperti itu lah yang ku inginkan untuk menenangkan diri dan me-recharge energi. Senang sekali aku bisa merasakan dan menikmati keindahan itu saat mendaki Gunung Ijen di Banyuwangi tahun lalu.

Selain pemandangan syahdu yang kita dapatkan dari pendakian gunung, kita juga akan mendapatkan banyak teman seperjalanan dan teman sependakian yang bisa kita temui selama masa-masa pendakian dan summit. Salah satu lesson learn berharga yang ku dapat saat mendaki gunung adalah kita dapat melihat karakter, ketulusan dan rasa gotong royong dan kebersamaan antar teman-teman sependakian. 

Di atas gunung kita bisa menjalin pertemanan dengan sesama pendaki dari mana pun!


Teman-teman sependakian Gunung Ijen

Cerita tadi baru sepenggal cerita manis saat naik gunung. Dan sesungguhnya ada banyak juga cerita-cerita yang melelahkan di balik suksesnya seorang pendaki sampai puncak. Pun, kalau kita mau naik gunung kita juga harus belajar keterampilan survival dan memahami fakta-fakta serta mitos yang santer terdengar mengenai pendakian gunung.

Sebagai seorang yang masih awam, dan masih penasaran dengan aktivitas naik gunung, aku senang sekali ada acara sharing yang membedah fakta dan mitos naik gunung yang diselenggarakan KUBBU BPJ bersama dengan RS Firdaus, Minggu 27 Agustus kemarin di Casapatsong's Kitchen, Cikini.

Dalam acara ini hadir dr. Ridho Adriansyah (RS Firdaus), Harley B. Sasta (Pegiat alam, penulis, pemerhati konservasi alam e-magazine mountmag), Tyo Survival (Ex-Host Jejak Petualang & Co-Host Berburu Trans TV), Siti Maryam (Survivor 4 hari 3 malam di Rinjani), Edi M. Yamin (Founder BPJ) sebagai narasumber pada acara sharing kemarin.

Para Narasumber


Ternyata, ada banyak hal loh yang perlu kita tahu dan pelajari sebelum naik gunung! Biar kita siap menghadapi berbagai macam kondisi di gunung yang tak menentu. Nah berikut ini, beberapa hal yang perlu kita siapkan:

Pertama, siap fisik. Medan perjalanan ke gunung pastinya lebih berat dibanding jenis-jenis traveling lain. Oleh karena itu, kita harus banget memersiapkan latihan fisik sebelum naik gunung dan kondisi yang prima saat berangkat. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Ridho Adriansyah dari RS Firdaus, kondsi fisik manusa akan mengalami gangguan jika berada di wilayah dengan ketinggian di atas 3.500 mdpl. Gejala paling sederhana dari gangguan ini yakni pusing dan mual.

Ada baiknya juga sebelum naik gunung, kita memeriksa kondisi fisik terlebih dahulu. Sehingga kita bisa mengukur kondisi kesehatan dan menyiapkaan vitamin atau obat-obatan yang diperlukan saat mendaki gunung. Untuk mengecek kesehatanmu, kamu bisa juga menyambangi RS Firdaus yang akan melayanimu dengan sepenuh hati dan tentunya memberikan pelayanan yang baik bagi para pemegang kartu BPJS.

Kedua, siap mental. Kesiapan mental tentu menjadi salah satu hal utama dan sangat penting ketika kita akan mendaki gunung. Dengan mental yang siap seyogyanya kita bisa melampui proses pendakian dan perjalanan pulang dengan tenang dan selamat. Kesiapan mental juga amat dibutuhkan ketika kita mengalami gangguan-gangguan selama dalam perjalanan. Kesiapan mental yang kuat selayaknya cerita Siti Maryam, yang bisa bertahan hingga 4 hari 3 malam di tengah belantara gunung dan terpisah dari rombongan di Gunung Rinjani.

Ketiga dan keempat, siap peralatan dan pengetahuan survival. Peralatan tentu menjadi faktor yang menunjang keselamatan dan kenyamanan kita selama perjalanan mendaki gunung. Seperti sharing yang dibawakan oleh Mas Tyo, kita harus membawa peralatan yang sesuai kebutuhan dan memahami cara-cara penggunaan dan manfaatnya saat di lapangan.

Kelima, siap bahan makanan. Yup, bahan makanan tentu jadi alat tempur yang wajib disiapkan kalau mau naik gunung. Pasalnya, di atas gunung sana pasti akan kesulitan ya buat belanja bahan makanan buat dimasak dan dimakan di sana. Selain itu, kita juga harus punya stok makanan kudapan yang bisa jadi sumber energi dan jangan terpisah dari tas yang selalu kita bawa kemana pun. Kudapan sumber energi bisa berupa coklat, madu, fitbar atau pun snack yang mengandung karbohidrat. Pelajaran ini kutarik dari pengalaman Mba Siti yang terpisah dari rombongan selama 4 hari dan bertahan hanya dengan berbekal madu dan permen karena tasnya juga terpisah dengan dirinya. Pengalaman ini benar-benar jadi pembelajaran yang penting!

Keenam, mengetahui adat istiadat dari lokasi gunung. Layaknya, peribahasa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, maka setiap kali kita hendak menaiki gunung di suatu wilayah tentunya kita juga harus memahami dan menghormati peraturan dan adat istiadat dari lokasi setempat. Selain itu, tentu kita juga harus turut menjaga kebersihan lingkungan gunung seperti ulasan dari Mas Harley.

Ketujuh, siap teman perjalanan. Selama perjalanan dan pendakian tentu kita membutuhkan teman perjalanan yang solid, setia dan mau saling membantu. Jangan sampai deh naik gunung tapi nekat sendiri dan ga punya teman yang bisa diajak kerjasama pas naik gunung.

Bedah Fakta dan Mitos Naik Gunung KUBBU BPJ x RS Firdaus

Info lebih lanjut:




RS Firdaus
Komplek Bea Cukai, Jl Siak J5/14, Sukapura, Cilincing, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta 14140
021-4407322
021-4400063
rsp.firdaus.jakut@gmail.com

2 comments
Hari ini, 17 Agustus 2017, Republik Indonesia tepat merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72. Hari Ulang Tahun Republik Indonesia kali ini yang bertajuk "Indonesia Kerja Bersama" memunculkan warna-warni perayaan dari segenap kementrian dan lembaga negara. Salah satu perayaan HUT RI tahun ini adalah pameran 48 lukisan koleksi istana yang dipamerkan di Galeri Nasional selama bulan Agustus, dengan tema "Senandung Ibu Pertiwi."

Tema perayaan kemerdekaan "Indonesia Kerja Bersama" terlihat dan terasa dalam pelaksanaan pameran lukisan "Senandung Ibu Pertiwi." Bagaimana tidak, terdapat beberapa lembaga negara yang bergotong royong dalam pelaksanaan pameran ini, mulai dari Istana Republik Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Galeri Nasional dan Mandiri.

Pameran Lukisan Istana "Senandung Ibu Pertiwi" di Galeri Nasional


Pameran lukisan istana tahun ini merupakan pameran kali kedua yang diselenggarakan di Galeri Nasional. Dengan terselenggaranya pameran ini, masyarakat umum bisa menikmati karya-karya lukisan yang menjadi koleksi istana, yang tentunya akan sulit dijangkau dan dinikmati masyarakat umum pada hari-hari biasa.

Aku sendiri sudah beberapa kali mengunjungi Galeri Nasional untuk mengunjungi pameran lukisan Pangeran Diponegoro, pameran keramik dan beberapa pameran lainnya. Namun, baru kali ini aku mengunjungi Galeri Nasional untuk melihat dan menikmati karya-karya lukisan yang mengisahkan keindahan dan keseharian masyarakat di tanah Indonesia.

Sudut Pameran Lukisan Bertemakan Mitologi


Pameran kali ini memamerkan beberapa kategori lukisan yang menggambarkan tentang Indonesia, mulai dari pemandangan alam, keseharian, budaya, hingga mitologi. Ketika aku mengunjungi Galeri Nasional pada hari Rabu, 9 Agustus lalu, terlihat antusiasme pengunjung yang melihat dan menikmati pameran lukisan ini. Buat kamu yang baru tahu informasi ini, tenang, kamu masih bisa menikmati pameran lukisan ini hingga 30 Agustus ya! Jangan lupa pamerannya berlangsung dari pukul 10.00 - 20.00 WIB. Dan, kamu dibebaskan biaya masuk untuk melihat-lihat karya-karya ini. Untuk mempermudah registrasimu ke pameran ini, kamu bisa mendaftar secara online di www.bek-id.com.

Keramaian Pengunjung Pameran Lukisan "Senandung Ibu Pertiwi"


Seperti yang ku bilang tadi, tahun ini ada 48 lukisan yang dipamerkan, jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya dalam rangka merayakan HUT RI ke-72. Berikut sedikit spoiler dari mahakarya yang dipamerkan ya:

Pemandangan di Sekitar Gunung Merapi karya Abdullah Suriosubroto

Pantai Pelabuhan Ratu karya Mas Pringadi

Menggaru Sawah di Jawa Karya Romualdo Locatelli

Tari Redjang Karya Theo Meler

Keluarga Tani karya Kosnan

Bakul Buah karya Hendra Gunawan


Setelah menyambangi seluruh lukisan yang dipamerkan di sini, aku seakan dibawa untuk melihat Indonesia secara lebih luas dan lebih dekat. Pemandangan alam yang begitu beragam, dataran rendah, datar dan tinggi, hingga laut, beragam budaya tradisi yang melekat di setiap kelompok masyarakatnya, hingga kisah-kisah mitologi yang turut juga menyumbangkan kisah-kisah sejarah bagi Indonesia. Karena Indonesia memang menjadi indah dan kuat karena keberagamannya.

Di sini Aku Melihat Indonesia


Refleksi ini seakan semakin dikuatkan oleh sebuah sajak yang terpampang di salah satu sudut pameran berjudul "Aku Melihat Indonesia."

Aku Melihat Indonesia

Bagaimana? Sudah cukup penasaran dan tak sabar menyambangi Galeri Nasional dan melihat Pameran "Senandung Ibu Pertiwi?" Ayo segera ke Galeri Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat 10110.
1 comment
Pagi itu, aku beranjak dari Tebet ke daerah Kalimalang. Aku penasaran sama tempat ngopi yang mau dilaunching di area Transmart Kalimalang. Pertama kali mendengar nama coffee shop-nya aku agak tergelitik ya, "Goesar Coffee." Goesar (gusar) macam kata bahasa indonesia yang mengesankan tidak tenang. Tapi ternyata, Goesar Coffee memiliki makna tersendiri. Kata Goesar diambil dari nama keluarga pemilik coffee shop ini, yang merupakan bahasa batak tua, yang dimaknai sebagai kesempurnaan. Pemaknaan tempatnya saja sudah mendalam ya, semoga racikan kopinya juga akan menyempurnakan mood mu, para penyeruput dan pecinta kopi.

Goesar Coffee ini menyajikan biji kopi terbaik kelas satu buat kamu. Semua biji kopinya disediakan oleh Goesar Coffee Roastery. Biji kopi yang dimiliki Goesar Coffee Roastery adalah biji kopi terbaik yang seringkali unjuk gigi dalam pameran kopi mancanegara. Setelah biji kopinya banyak diburu dan dinikmati para penikmat kopi mancanegara, Goesar Groups mencoba menyuguhkan dan membagikan secara langsung kualitas kopi terbaik kepada para konsumen lokal melalui "Goesar Coffee" yang diluncurkan 2 Agustus lalu.

Bapak Christman Desanto Goesar Meresmikan Pembukaan Goesar Coffee

Di sini, kamu bisa menikmati 6 varian specialty coffee of Indonesia yaitu kopi lintong, kopi mandheling, kopi gayo, kopi toraja, kopi flores manggarai, dan kopi java. Dari 6 varian kopi itu, aku paling suka kopi gayo dengan rasa asam yang pas di lidah. Kalau kamu, lebih suka varian kopi yang mana?

Biji kopi terbaik pun akan diracik oleh para barista terbaik Goesar Coffee. Kita bisa menikmati secangkir kopi dengan alunan musik akustik dan desain interior yang unik dan kental dengan budaya batak. Suguhan cita rasa dan ayaknya jargon "Luxurious of Taste and Love" yang diusung Goesar Coffee.

Para barista Goesar Coffee siap meracik kopi terbaik buat kamu ~
Exclusive Key Chain dari Goesar Coffee
Tadi sudah kuceritakan ya, kalau nuansa Goesar Coffee ini kental dengan aksen batak. Kopi unggulan di usung Goesar Coffee Kalimalang adalah kopi lintong dan suasana coffee shop ini dipercantik dengan desain ornamen-ornamen batak seperti lesung opung, kepala singa jabu bolon dan ukiran-ukiran gorga dengan warna merah-hitam-putih nya yang khas.

Ukiran Gorga, sentuhan budaya batak yang mempercantik design interior Goesar Coffee

Berkunjung ke Goesar Coffee tak melulu soal kopinya, tapi juga dengan kekentalan budayanya. Di sini, selain bisa menikmati suguhan kopi terbaik, kita juga turut mengapresiasi budaya tradisi yang kita miliki. Jadi kapan kamu kesini?