No comments

 Pagi itu aku dan beberapa teman dari Jakarta dan Bandung bersiap melakukan perjalanan menuju Desa Adat Baduy. Desa Adat? Ya, desa Baduy memang dinobatkan sebagai desa adat karena masyarakat desa Baduy, terutama desa Baduy Dalam masih menjungjung tinggi dan menjaga adat tradisi para leluhur. Masyarakat Baduy masih tinggal di dalam rumah tradisional yang terbuat dari bilik bambu, dan berbentuk panggung. Baju yang dikenakan juga baju khas baduy yakni kain samping ares dan baju putih atau hitam, serta ikat kepala.


Sore hari mobil kami sampai di Pintu Gerbang Ciboleger. Tembok pembatas antara desa Baduy dan peradaban dari dunia luar. Ya, karena di sini lah titik terakhir kita bisa mengendarai kendaraan bermotor, mendapatkan sinyal telfon dan jaringan internet yang masih bagus, akses pasar, mini market, kamar mandi dan listrik. Ketika kita sudah melewati gerbang dan memasuki desa Baduy? Oh tidak lagi! Tidak ada lagi pasar, toko, sinyal telfon dan internet (susah sekali mendapatkannya), dan kamar mandi pun amat sangat terbatas hanya beberapa rumah yang memiliki kamar mandi. Beberapa orang-orang di Baduy Luar menggunakan lampu solar untuk penerangan di malam hari, dan masih ada beberapa yang menggunakan ceplik (lampu minyak), sedangkan di Baduy Dalam semuanya menggunakan ceplik/lampu minyak.

Patung Selamat Datang di Ciboleger
Foto oleh Wulan

Dari Pintu Gerbang Ciboleger menuju Desa Balimbing di Baduy Luar kita tempuh dengan berjalan kaki. Jalanannya masih tanah, licin, dan turun hujan saat itu. Aku yang belum pernah melakukan perjalanan jauh, terutama di dataran tinggi begini merasa sangat kewalahan, apalagi dengan beban carrier 50L dan turun hujan! Aku sempat terhenti di tengah perjalanan untuk menghela nafas dan menjatuhkan ke carrier ke tanah! Ahh, aku sudah sangat lelah. Tapi teman-teman yang lain membantuku dan kita melanjutkan perjalanan.

Perjalanan menuju Desa Adat Baduy itu sungguh penuh perjuangan!

Akhirnya, petang hari kami sampai di rumah Kang Sarpin, ayah Mul di Desa Balimbing, kita singgah dan tinggal di sini selama di Baduy. Kang Sarpin, bisa dibilang adalah salah satu tokoh pemuda dari Baduy Luar. Kang Sarpin sudah sering menerima tamu dari kota.


Kami, berada di jembatan yang memisahkan desa balimbing dengan desa gazebo
Foto oleh Agung

Desa-desa di Baduy baik di Baduy Luar maupun di Baduy Dalam dipisahkan oleh sungai dan disatukan oleh jembatan yang dibuat dari kayu bambu.


Bersama dengan Ayah Mursyid, Jaro Parowari/Humas dari Desa Cibeo, Baduy Dalam (mengenakan baju khas baduy berwarna putih), Kang Nalim, salah satu warga Desa Cibeo, Baduy Dalam (mengenakan baju khas baduy berbaju hitam), dan Mul, salah satu pemudah di Desa Balimbing, Baduy Luar (mengenakan iket kepala khas baduy)
Foto oleh Agung

Mul meneteskan getah batang kisereh di mata Aldi. Batang kisereh merupakan salah satu tanaman mengobati sakit mata dan menjernihkan mata
Foto oleh Agung

Masyarakat baduy tidak melakukan pengobatan dan pemeriksaan ke dokter atau bidan, mereka (terutama masyarakat Baduy Dalam) dilarang mengikuti modernitas, mengkonsumsi obat-obatan berbahan kimia dan menggunakan sabun. Masyarakat baduy menggunakan tanaman-tanaman untuk pengobatan tradisional dan menggunakan batu untuk menyikat gigi mereka dan tak menggunakan sabun untuk mandi dan mencuci.

Ladang Huma di Baduy Luar
Foto oleh Agung

Pekerjaan utama masyarakat baduy adalah bertani. Mereka menanam padi setahun sekali di ladang huma. Selain padi mereka juga menanam sayuran, cabai, jagung dan umbi-umbian.

Perjalanan dari Desa Balimbing (Baduy Luar) menuju Desa Cibeo (Baduy Dalam)
Foto oleh Agung

Kegiatan Menenun oleh Wanita Baduy
Foto oleh Fikri

Wanita Baduy, (terutama di baduy luar) setiap sore menenun di teras rumahnya. Setiap wanita di baduy seyogyanya bisa menenun, dan kegiatan menenun ini hanya dilakukan oleh para wanita.

Jembatan yang memisahkan desa-desa di Baduy Luar
Foto oleh Fikri

Kegiatan memasak bersama dengan warga baduy luar (Kang Sarpin beserta istri)
Foto oleh Oase

Rumah tradisional masyarakat Baduy Luar
Foto oleh Agung

Leuit, tempat penyimpanan padi masyarakat Baduy
Foto oleh Agung

Leuit merupan tempat penyimpanan padi atau lumbung padi bagi masyarakat baduy. Leuit ini bisa menyimpan padi hingga berumur 100 tahun. Masing-masing kepala keluarga memiliki 1-2 buah leuit. Leuit (padi) ini merupakan salah satu bentuk simpanan kekayaan mereka. Leuit ditempatkan secara berkelompok, terpisah dengan desa/rumah asal pemilik untuk menghindari bencana/kebakaran.
No comments

Hari Valentine atau disebut juga hari kasih sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya.

Awalnya, hari Valentine adalah Perayaan Lupercalian pada tanggal 13-15 Februari yang dimaknai sebagai ritus pemurnian dan kesuburan. Hingga pada tahun 496 M, Paus Gelasius I melarang Lupercalia dan menyatakan 14 Februari sebagai hari Santo Valentine. Hari inilah yang marak dirayakan setiap tahun oleh muda-mudi di seluruh penjuru dunia, termasuk juga Indonesia.

Bangsa barat menyatakan dan merayakan rasa cinta kasih dan sayangnya dengan kartu ucapan valentine, mawar merah, coklat dan simbol cupid.

Lalu bagaimana dengan pengungkapan rasa cinta kasih dan sayang dalam tradisi nenek moyang orang Indonesia?

Nenek moyang kita menyatakan rasa cinta kasih dan sayangnya dengan cara yang amat elegan, penyampaian ungkapan hati dalam motif penuh makna yang tertuang dalam sehelai kain, batik!

Terdapat ribuan motif batik yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia dengan beragam motif dan warnanya. Masing-masing motif batik memiliki makna, filosofi dan cara penggunaannya tersendiri.

Ribuan motif ini telah diteliti oleh Hokky Situngkir dan menjadi sebuah master piece “Pohon Filomemetika Batik” sehingga kita bisa melihat keindahan batik nusantara dalam sebuah pohon kekerabatan batik.

Lalu, motif batik apa yang mengungkapkan rasa cinta kasih dan sayang nenek moyang orang Indonesia?

Dari ribuan motif yang ada di seluruh pelosok Indonesia, ada lima motif batik yang menarik dan memunculkan sisi romantisme nenek moyang kita.

Batik Truntum

Motif truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III dari Surakarta Hadiningrat). Motif truntum ini memiliki makna cinta yang tumbuh kembali. Motif ini dibuat sebagai simbol cinta kasih yang tulus tanpa syarat, abadi dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum).
Motif truntum juga merupakan simbol dari cinta yang tumbuh kembali.
Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Terkadang, motif truntum ini juga dimaknai bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan yang baru.

Batik Sido Luhur

Motif batik Sido luhur berasal dari Keraton Yogyakarta. Kata sido memiliki arti menjadi/jadi/terlaksana. Motif batik yang berawalan sido mengandung harapan agar apa yang diinginkan bisa terlaksana. Motif batik sido luhur memiliki makna harapan untuk mencapai kedudukan yang tinggi dan bisa menjadi contoh atau panutan masyarakat.
Motif batik sido luhur dibuat oleh Ki Ageng Henis, kakek dari Panembahan Senopati yang merupakan pendiri kerajaan Mataram Jawa. Konon, motif batik ini dibuat khusus oleh Ki Ageng Henis untuk diberikan kepada anak dan keturunannya agar memiliki hati serta pikiran yang luhur sehingga berguna bagi negara dan masyarakat.
Mitosnya, pembuatan motif batik ini diawali dengan menahan nafas cukup lama. Filosofi makna di balik motif batik Sido luhur ini juga berarti berhasil mengembangkan, menyempurnakan diri menjadi manusia yang berbudi luhur yang senantiasa berdoa, mengingat dan bersyukur kepadaNya.
Motif ini adalah motif yang dikenakan oleh pengantin saat pernikahan.

Batik Sido Asih

Batik sido asih berasal dari bahasa jawa, yakni “sido” yang berarti terus menerus/jadi/keberlanjutan dan “asih” yang mempunyai arti kasih sayang. Batik sido asih ini diartikan sebagai pelambang suatu kehidupan manusia yang penuh cinta kasih dan sayang, menentramkan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
Di dalam adat Jawa, batik sido asih sering dipakai pada acara pernikahan, kain bermotif sido asih digunakan sebagai busana malam pengantin. Dengan menggunakan motif batik sido asih, maka kedua pengantin memiliki harapan untuk mampu menjalani kehidupan barunya dengan lebih harmonis serta semakin romantis penuh cinta kasih.

 

Batik Sido Mukti

Motif batik sido mukti seringkali digunakan untuk busana pengantin dalam upacara pernikahan. Unsur motif batik sido mukti mengandung motif gurda. Harapan dari batik sido mukti ini adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.

Batik Lasem

Batik lasem mampu menghadirkan romantisme relasi, layaknya sekuntuk mawar merah. Keindahan paduan warna dan motifnya mampu menyejukan hati berbinar asmara.
Tidak seperti bunga yang cepat layu, batik lasem lebih mempresentasikan loyalitas cinta kasih, karena sifat keabadiannya yang sarat dengan nilai-nilai filosofis, spiritualisme, art dan material. Batik lasem ini cocok untuk mengungkapkan dan mengekspresikan perasaan cinta.

Mana pilihan batikmu untuk ungkapkan rasa cinta, kasih, sayang dan merayakan keceriaan valentine?