Rehabilitasi Sosial Terintegrasi demi Kesempatan dan Fungsi Sosial para OYPMK dan Penyandang Disabilitas

Isu kesehatan dan kesempatan kerja memang bisa dibilang menjadi isu-isu krusial yang sangat erat dengan hajat hidup orang banyak yaa, tidak hanya bagi masyarakat umum tetapi juga bagi OYPMK (Orang yang pernah mengalami kusta) dan penyandang disabilitas. Pasalnya, dengan menyandang status OYPMK maupun disabilitas, pandangan masyarakat umum dan kesempatan kerja bagi mereka menjadi tidak setara. Salah satu hal mendasar yang membangun kondisi diskriminasi terhadap OYPMK dan disabilitas adalah stigma!

Ruang Publik KBR: Rehabilitas Sosial Terintegrasi untuk OYPMK dan Disabitas Siap Bekerja

Terbatasnya Akses Pekerjaan bagi OYPMK dan Penyandang Disabilitas

Tidak dipungkiri, keterbatasan penyandang disabilitas dan stigma yang melekat di masyarakat menyebabkan terbangunnya kondisi sosial yang membatasi peluang dan akses pekerjaan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas. Padahal terdapat 26 hak-hak disabilitas yang harus dipenuhi, salah satunya adalah hak pekerjaan. Oleh karenanya pemerintah melalui program asistensi rehabilitas sosial memberikan pelatihan-pelatihan untuk memberdayakan penyandang disabilitas untuk memasuki dunia kerja. Aku mendapatkan banyak informasi terkait kerja-kerja pemerintah mengenai pemberdayaan kelompok disabilitas dari Ibu Sumiatun S.Sos, M.Si - Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos.

OYPMK pun termasuk dalam program pelatihan ini karena para penderita kusta tergolong dalam kelompok yang memiliki disabilitas fisik. Program rehablitas dan pelatihan yang diselenggarakan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas diberikan secara cuma-cuma untuk meningkatkan dan memberdayakan potensi yang dimiliki. Beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan antara lain pembuatan motor roda tiga. Selain pelatihan pembuatan motor roda tiga, para penyandang disabilitas juga dibekali dengan cara produksi dan berwirausaha berdasarkan kemampuan yang dimiliki.

Kemensos juga bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) setempat untuk memberikan pelatihan kemampuan dasar seperti elektronik dan komputer. Dengan mengikuti pelatihan, para penyandang disabilitas siap untuk bekerja baik di sektor formal maupun informal. Pemberdayaan kaum disabilitas juga sekaligus membangun kemandirian mereka sendiri. Secara perlahan diharapkan hal tersebut dapat menyadarkan stigma masyarakat akan kelompok penyandang disabilitas.

Program Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Kemensos RI

  1. Pendidikan; Kesiapan hardskill dan softskill, balai-balai pelatihan mengembangkan potensi dan kompetensi, kemampuang memasuki dunia kerja
  2. Layanan Asistensi Rehabilitasi sosial, melayani penyandang disabilitas berupa dukungan langsung antara lain
    • Dukungan pemenuhan kebutuhan hidup layak;
    • Perawatan sosial dan pengasuhan anak;
    • Dukungan keluarga;
    • Terapi fisik, psikososial, terapi mental, spiritual;
    • Pelatihan vokasional / pembinaan kewirausahaan;
    • Bantuan sosial; dan
    • Dukungan aksesibilitas.

Kerjabilitas

Sebuah organisasi sosial yang pada awalnya berupaya membantu kelompok penyandang disabilitas untuk bisa mendapatkan kesempatan kerja di sektor formal. Kini, kerjabilitas juga turut menggandeng dan memberikan pendampingan bagi kempok disabiltias yang berupaya menyiapkan masa depannya di dunia kewirausahaan .Fokus pada sektor formal, sejak 2014, disabilitas lekat dengan pekerjaan pada sektor-sektor informal, karena opsi yang tersedia satu-satunya, azas tidak berkeadilan, sehingga tidak ada yang sama. 

Pengalaman kerjabilitas membangun program dan mendorong potensi penyandang disabilitas disampaikan dengan lugas oleh Tety Sianipar, Direktur Program Kerjabilitas. Tak banyak yang tahu, kalau ternyata ada juga para penyandang disabilitas yang mengenyam pendidikan hingga bangku sarjana. Beberapa universitas seperti UIN Yogyakarta dan Brawijaya Malang telah membuka pendaftaran kuliah bagi kelompok penyandang disabilitas.

Kerjabilitas bergerak membangun organisasi dan informasi melalui platform online, demi memaksimalkan platform yang tersedia, menjangkau lebih banyak orang sekaligus menekan biaya yang diperlukan untuk bergerak. Selain sektor formal. lambat laun challege pemberdayaan disabilitas dari sektor perusahaan pun berdatangan.

Gap kemampuan penyandang disabilitas dengan kemampuan yang dibutuhkan di lapangan kerja, khususnya soft skill menjadi hal yang perlu ditangani, oleh karenanya Kerjabilitas pun membuat berbagai program pelatihan, khususnya di bidang soft skill. Kerjabilitas pun turut memandu para penyandang disabilitas untuk membuat rencana atau pun peta karir. Berdasarkan pengalaman yang terbangun, banyak penyandang disabilitas yang berkarya di sektor formal untuk mencari ilmu, pengalaman serta modal untuk mebangun usahanya sendiri di masa mendatang.

Kerjabilitas pun turut membangun kerjasama dengan BLK guna menjembatani para penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pelatihan hard skill dari BLK. Kerjabilitas juga mendukung agar program BLK inklusi bagi para disabilitas, mulai dari pengajar hingga infrastruktur bisa digunakan oleh kelompok disabilitas. Beberapa BLK yang telah memenuhi hal tersebut antara lain BLK Surakarta, Banyuwangi, Sidoarjo, Semarang dan Lombok Timur.

Masalah Kita: Stigma

Stigma masyarakat yang menganggap remeh dan kurang memercayai kemampuan kelompok disabilitas, hingga misinterpretasi tentang mudahnya penularan kusta menjadi momok yang perlu dibenahi guna membangun kondisi yang lebih baik dan bisa terus memberdayakan para OYPMK dan penyandang disabilitas.

No comments

your comment awaiting moderation