Showing posts with label budaya. Show all posts

Mendata Budaya untuk Ilmu Pengetahuan

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata budaya? Pada awalnya aku terbayang dengan kelompok penari yang membawakan tarian dengan lemah gemulai di sanggar atau pun di pendopo, kisah-kisah masa lampau yang diceritakan melalui wayang oleh dalang pada saat pementasan, atau pun adat pernikahan masing-masing suku bangsa di Indonesia.

Tapi, setelah bergabung dengan sebuah komunitas yang melakukan pendataan budaya, pandanganku tentang budaya kian berubah dan berkembang. Budaya tidak terbatas dalam lingkup yang sangat kecil seperti tarian, pertunjukan dan tradisi pernikahan. Lebih luas lagi, segala bentuk kemampuan untuk beradaptasi terhadap terhadap ekosistem dan lingkungan sosial adalah bagian dari budaya. Mulai dari produk arsitektur, kalender tradisional, sistem perairan dan pertanian, alat musik, cerita rakyat, kuliner, motif kain, lagu, naskah kuno dan prasasti, ornamen, pakaian tradisional, permainan tradisional, ritual, seni pertunjukan, senjata dan alat perang, tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan, serta masih banyak lagi ragam kebudayaan yang ada di setiap jengkal Nusantara.

Jadi mengapa kita perlu mendata budaya?

Berawal dari ikut mendata budaya bersama Sobat Budaya, aku menjadi tahu betapa banyak dan beragamnya budaya tradisi nusantara, dengan jumlah budaya yang telah terdata lebih dari 40.000 di budaya-indonesia.org. Dengan jumlah 16.056 pulau, 1.340 suku bangsa, 1.211 bahasa daerah bukanlah hal yang mustahil kalau kekayaan budaya kita mencapai satu juta data.

Dari data budaya tersebut lah lahirlah temuan-temuan ilmu pengetahuan yang membanggakan dan mendorong sense of belonging atas kekayaan budaya yang kita miliki.

Belajar bersama Sobat Budaya dan Bandung Fe Institute, aku mendapatkan pencerahan tentang ilmu-ilmu pengetahuan yang banyak tersembunyi dan terkodekan di balik kebudayaan kita. Misalnya saja, ditemukanlah perhitungan matematika di balik pola-pola motif batik, namanya geometri fraktal. Ada juga perhitungan matematika dalam suluran ukiran gorga Sumatera Utara, namanya sistem-L atau geometri kura-kura. Pernahkah kita memikirkan dan membayangkan, bagaimana nenek moyang kita membangun Candi Borobudur? Di mana pada masa itu belum ada jasa kontraktur yang bisa membangun bangunan semegah dan sebesar Candi Borobudur? Dengan metode selular otomata, upaya membedah cara pembangunan arsitektur yang begitu kompleks ini, ditemukan pula dimensi fraktal yang menjadi perhitungan pembangunan candi ini.

Ilmu Pengetahuan di Balik Candi Borobudur dan Gorga Batak


Pohon Kekerabatan Arsitektur Nusantara dan Sistem Investasi Masyarakat Tradisional

Coba kita luangkan waktu sejenak berwisata ke Situs Megalitikum Gunung Padang, di Cianjur, Jawa Barat. Saat melihatnya pertama kali, yang kita lihat seakan-akan hanyalah tumpukan dan bongkahan batu yang berceceran di atas perbukitan. Tapi, tidak sesederhana itu kondisi Situs Megalitikum Gunung Padang. Di balik bongkahan batu-batu tersebut, tertinggal jejak-jejak teknologi arkeo-astronomi untuk melihat bintang utara, gnomon untuk pertanda waktu, dan ada pula batu gamelan yang menghasilkan sumber suara dengan tangga nada f-g-d-a. 

Dengan kumpulan data dan informasi pun akhirnya kita bisa membaca kekerabatan masyarakat nusantara melalui pola motif kainnya,  produk arsitekturnya, lagunya dan kulinernya. Hal ini semakin menguatkan persatuan nusantara. Slogan "Bhinneka Tunggal Ika" tidak lagi hanya sebagai simbol belaka, namun bisa dibuktikan secara sains.

Peta Kekerabatan Motif Kain Nusantara

Peta Kekerabatan Lagu Nusantara

Peta Kekerabatan Kuliner Nusantara

Dari pendataan dan penelitian, budaya tidak lagi menjadi sebuah objek yang sederhana belaka, tapi kompleks dengan segala macam ilmu pengetahuan yang tersembunyi. Banyak juga temuan tentang sistem investasi tradisional masyarakat-masyarakat zaman dulu, seperti gantangan di Jawa Barat dan nyumbang di Jawa Tengah. Ragam pohon kehidupan seperti kayon, wayang, batang garing, gorga, pohon hariara dan pohon kalpataru menyimpan narasi mitologis yang sesungguhnya mengajarkan filosofi kehidupan. Narasi-narasi semacam ini tentu banyak kita dengarkan melalui tuturan orang-orang tua. Saratnya ilmu pengetahuan di balik kebudayaan tersebut, kini menjelma menjadi #KodeNusantara, yang bisa dibaca dan dipelajari dalam sebuah buku "Kode-Kode Nusantara: Telaah Sains Mutakhir atas Jejak-jejak Tradisi di Kepulauan Indonesia."



Riset-riset peneliti belia yang dilakukan oleh murid-murid SMP dan SMA pun menunjukan hubungan kalender Bali dengan terjadinya bencana, kejahatan, dan sistem tanam yang dianalisis secara ilmiah, tata aturan "warugan lemah" di Sungai Cikapundung Bandung, juga mempengaruhi sistem perairan sepanjang sungai tersebut. 
Ilmu pengetahuan inilah yang menjadi alasan penting mengapa kita perlu mendata budaya.
Dengan ilmu pengetahuan yang dikumpulkan dan digali dari kebudayaan tradisi nusantara kita bisa mencegah ancaman kepunahan, menangkal klaim budaya, dan sumber inspirasi untuk inovasi. Yang paling penting dan mendasar adalah mendata budaya untuk ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan itulah, pencegahan kepunahan, penangkalan klaim, pengembangan inovasi bisa dilakukan. Dengan penggalian ilmu pengetahuan di balik budaya tradisi maka kita bisa membuka kembali peradaban di Nusantara yang telah lama terkubur dalam ingatan sejarah dan ilmu pengetahuan.

Pentingnya mendata demi ilmu pengetahuan ini semoga bisa menjadi pendorong bagi kita semua untuk ikut bergotong royong mengumpulkan informasi seputar kebudayaan kita dan mendigitalisasikannya ke Perpustakaan Digital Budaya Indonesia di situs budaya-indonesia.org.

Anggota Sobat Budaya melakukan pendataan budaya ke budaya-indonesia.org


Senandung Ibu Pertiwi Rayakan Kemerdekaan RI

Hari ini, 17 Agustus 2017, Republik Indonesia tepat merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72. Hari Ulang Tahun Republik Indonesia kali ini yang bertajuk "Indonesia Kerja Bersama" memunculkan warna-warni perayaan dari segenap kementrian dan lembaga negara. Salah satu perayaan HUT RI tahun ini adalah pameran 48 lukisan koleksi istana yang dipamerkan di Galeri Nasional selama bulan Agustus, dengan tema "Senandung Ibu Pertiwi."

Tema perayaan kemerdekaan "Indonesia Kerja Bersama" terlihat dan terasa dalam pelaksanaan pameran lukisan "Senandung Ibu Pertiwi." Bagaimana tidak, terdapat beberapa lembaga negara yang bergotong royong dalam pelaksanaan pameran ini, mulai dari Istana Republik Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Galeri Nasional dan Mandiri.

Pameran Lukisan Istana "Senandung Ibu Pertiwi" di Galeri Nasional


Pameran lukisan istana tahun ini merupakan pameran kali kedua yang diselenggarakan di Galeri Nasional. Dengan terselenggaranya pameran ini, masyarakat umum bisa menikmati karya-karya lukisan yang menjadi koleksi istana, yang tentunya akan sulit dijangkau dan dinikmati masyarakat umum pada hari-hari biasa.

Aku sendiri sudah beberapa kali mengunjungi Galeri Nasional untuk mengunjungi pameran lukisan Pangeran Diponegoro, pameran keramik dan beberapa pameran lainnya. Namun, baru kali ini aku mengunjungi Galeri Nasional untuk melihat dan menikmati karya-karya lukisan yang mengisahkan keindahan dan keseharian masyarakat di tanah Indonesia.

Sudut Pameran Lukisan Bertemakan Mitologi


Pameran kali ini memamerkan beberapa kategori lukisan yang menggambarkan tentang Indonesia, mulai dari pemandangan alam, keseharian, budaya, hingga mitologi. Ketika aku mengunjungi Galeri Nasional pada hari Rabu, 9 Agustus lalu, terlihat antusiasme pengunjung yang melihat dan menikmati pameran lukisan ini. Buat kamu yang baru tahu informasi ini, tenang, kamu masih bisa menikmati pameran lukisan ini hingga 30 Agustus ya! Jangan lupa pamerannya berlangsung dari pukul 10.00 - 20.00 WIB. Dan, kamu dibebaskan biaya masuk untuk melihat-lihat karya-karya ini. Untuk mempermudah registrasimu ke pameran ini, kamu bisa mendaftar secara online di www.bek-id.com.

Keramaian Pengunjung Pameran Lukisan "Senandung Ibu Pertiwi"


Seperti yang ku bilang tadi, tahun ini ada 48 lukisan yang dipamerkan, jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya dalam rangka merayakan HUT RI ke-72. Berikut sedikit spoiler dari mahakarya yang dipamerkan ya:

Pemandangan di Sekitar Gunung Merapi karya Abdullah Suriosubroto

Pantai Pelabuhan Ratu karya Mas Pringadi

Menggaru Sawah di Jawa Karya Romualdo Locatelli

Tari Redjang Karya Theo Meler

Keluarga Tani karya Kosnan

Bakul Buah karya Hendra Gunawan


Setelah menyambangi seluruh lukisan yang dipamerkan di sini, aku seakan dibawa untuk melihat Indonesia secara lebih luas dan lebih dekat. Pemandangan alam yang begitu beragam, dataran rendah, datar dan tinggi, hingga laut, beragam budaya tradisi yang melekat di setiap kelompok masyarakatnya, hingga kisah-kisah mitologi yang turut juga menyumbangkan kisah-kisah sejarah bagi Indonesia. Karena Indonesia memang menjadi indah dan kuat karena keberagamannya.

Di sini Aku Melihat Indonesia


Refleksi ini seakan semakin dikuatkan oleh sebuah sajak yang terpampang di salah satu sudut pameran berjudul "Aku Melihat Indonesia."

Aku Melihat Indonesia

Bagaimana? Sudah cukup penasaran dan tak sabar menyambangi Galeri Nasional dan melihat Pameran "Senandung Ibu Pertiwi?" Ayo segera ke Galeri Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat 10110.

Techno Culture Tour: Usaha Sains-Tekno-Budaya

Traveling layaknya menjadi gaya hidup kekinian ya khusunya untuk para kaum urban. Mengunjungi tempat-tempat wisata di berbagai daerah mulai dari wisata dalam negeri hingga ke luar negeri. Seiring dengan tren traveling pun sudah mulai berkembang beberapa konsep traveling, seperti eco-tourism,wisata maritim, wisata cagar alam, wisata konvensi, agro wisata, wisata buru, wisata ziarah,   wisata budaya,  hingga inisiasi baru techno culture tour dari komunitas Sobat Budaya.

Techno culture tour merupakan peluang usaha wisata baru yang dikembangkan oleh Sobat Budaya. Pada dasarnya paket wisata ini menggabungkan, sains modern, teknologi dan pengetahuan budaya. Mengawali usaha tersebut, techno culture tour perdana diselenggarakan pada tanggal 17 April 2017 di Situs Megalitikum Gunung Padang.

Situs Gunung Padang yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat ini dikenal sebagai kawasan Megalitikum tertua di Asia Tenggara. Tumpukan batu yang berundak dan menghampar ini menjadi objek wisata kekinian setelah dibuka jalur masuknya pada tahun 2014. Penduduk sekitar, sesungguhnya sudah mengetahui keberadaan tumpukan batu ini. Namun, mereka mengeramatkannya dan menganggapnya sebagai lokasi Prabu Siliwangi, penguasa turun-temurun Kerajaan Pajajaran yang berusaha membangun istana dalam semalam di kawasan ini.

Namun, data dan informasi dari hasil riset yang dilakukan Sobat Budaya bersama-sama Bandung Fe Instite mengungkap fakta lain yang menarik! Kawasan Megalitik yang dikeramatkan ini menyimpan pengetahuan dan sains yang selama ini tersembunyi. Salah satunya adalah Batu Gamelan yang merupakan sumber bunyi pentatonik f-g-d-a di Gunung Padang.

Batu Gamelan
Kang Nanang (Guide Lokal), Bang Hokky (Peneliti dan Guide Techno Culture Tour) bersama para peseta

Batu Gnomon, Jam Matahari di Situs Megalitikum Gunung Padang

Selain, gugusan batu gamelan, ada pula gugusan batu, disebut gnomon, yang menjadi jam matahari di kawasan megalitikum ini. Nenek moyang kita, pada masa itu, mengukur waktu dan pergantian musim dengan  mengamati pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang yang ditopang dengan pemahaman tentang arah mata angin dan kutub bumi. Pengukuran ini bisa diperoleh pula dengan pengamatan detail atas rasi bintang.

Mike Addock, Peneliti Litofonik Inggris, Peserta Techno Culture Tour

Bersama Yayasan Perceka Art Center

Simulasi Arkeo Astronomi Situs Megalitikum Gunung Padang

Kelima undakan punden berundak Gunung Padang uniknya tidak berada pada garis lurus yang berorientasi arah sama. Undak pertama berorientasi pada Gunung Gede (335 UT). Undak kedua situs Gunung Padang, secara unik berorientasi agak berbeda (015 UT) dengan undakan pertama. Memperhatikan orientasi posisinya, susunan bebatuan itu seolah menghadap ke arah langit utara yang terbuka. Seolah-olah ada upaya kesengajaan menyusun bebatuan tersebut menjadi semacam “jendela” observasi terbitnya banyak gugus bintang yang biasanya digunakan sebagai penunjuk arah Utara. 



Techno culture tour ini sesungguhnya bukan hanya tentang usaha pariwisata tetapi juga sebagai upaya dan gerakan edukasi bahwa terdapat pengetahuan dan sains modern yang terkodekan di balik kekayaan dan keberagaman budaya tradisi di Nusantara.

Uraian singkat mengenai sains di balik objek-objek di Situs Megalitikum Gunung Padang sudah menunjukan bahwa ada pengetahuan dan sains modern yang terkodekan di balik batuan megalit ini. Situs ini menjadi percontohan dari konsep techno culture tour. Selain, situs ini, Sobat Budaya juga bisa membawamu menjelajahi pengetahuan sains modern di balik tempat-tempat wisata budaya di Indonesia, antara lain Danau Toba, Candi Borobudur, Pusat Kerajinan Batik di Solo dan Yogyakarta, dan objek-objek budaya yang lain yang bisa kamu baca terlebih dahulu dalam buku Kode-Kode Nusantara. Ayo menjelajahi sains-tekno-budaya Nusantara!

---
Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs jadimandiri.org

Lurik Lawe dan Jogja yang Penuh Keromantisan

Jogja, kota penuh kenangan, yang menarik ku kembali setelah tujuh tahun berlalu. Kota syahdu, damai, dan penuh rasa bahagia. Pun, Jogja adalah kota dengan indeks kebahagiaan paling tinggi di Indonesia. Mungkin, kalau aku yang tenggelam di hiruk pikuk ibu kota, berpindah ke Jogja akan menemukan rasa bahagia yang melimpah ruah ya, hahaha.

Jogja, kota yang tidak akan terlepas dari keeratan budayanya. Salah satu yang menarik adalah Lurik. Tenun tradisional Kerataon Jogjakarta. Konon, kain lurik ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram, dan hanya dikenakan oleh abdi dalem keraton.

Motif Lurik
Sumber Foto: Kompasiana

Lorek atau lurik ini berasal dari bahasa Jawa Kuno, artinya lajur atau garis. Itulah mengapa kain-kain lurik yang kita temui bentuknya garis-garis. Kain tenun lurik, yang nyaris punah kini dikembangkan secara kreatif oleh Lawe Indonesia.

Lawe Indonesia mengembangkan social entreprise berbasis budaya untuk turut serta menjaga budaya tradisi Lurik Jogjakarta dan mendorong para perempuan Jogja berdikari secara ekonomi dengan ikut serta menjadi artisan Lawe Indonesia, seperti perbincangan yang ku dapat dari Mba Vitria, selaku manager marketing Lawe Indonesia. Apa yang dijalankan Lawe Indonesia ini merupakan aktualisasi dari cita-cita yang ingin dicapai "Conserving Tradition, Empowering Woman."

Lawe Indonesia: Conserving Tradition, Empowering Woman


Jika main ke Jogja mampirlah ke show room Lawe Indonesa di Jalan Prof Amri Yahya. Selain itu, kita juga bisa mengunjungi Lawe Indonesia di Main Lobby festival INACRAT 2017 booth nomor 91. Tema yang diusung tahun ini, The Magnificence of Yogyakarta, layaknya dukungan semesta pada upaya sosial yang dilakukan oleh Lawe Indonesia.

Kain lurik memiliki pola yang sederhana sesuai dengan pemaknaannya tentang kesederhaan dan mengajarkan pemakainya untuk menjadi sederhana. Sebuah pemaknaan dari budaya tradisi yang begitu romantis bukan?

Kain lurik dengan pola yang sederhana ini, digubah menjadi beragam produk yang unik, elegan, dan fungsional. Mulai dari tas, make up pouch, dompet, notebook case, gantungan kunci, boneka, kalung, gantungan kartu, bandana, ikat rambut, sarung bantal, kain, syal, phone case dan beragam produk lainnnya.

Boneka Lawe

Dompet Lawe

Notebook Case Lawe

Phone Case Lawe

Tas Lawe

Bersama Mba Vitria, Marketing Manager Lawe

Let's support conserving tradition, empowering woman with Lawe

---


Info lebih lanjut tentang Lawe Indonesia bisa diakses ke:
Fan Page Lawe Indonesia
Twitter @laweindonesia
Instagram @laweindonesia@laweindonesia

TOKO

YOGYAKARTA
SHOWROOM HOUSE OF LAWE

Address: JL. Prof Dr Ki Amri Yahya, Gampingan, 6, Yogyakarta
Phone: 0811-262-3838




WORKSHOP

Address: Bugisan Selatan, Tegal Kenongo RT 3 RW 8 No. 82 DK 4, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Phone: 0274-386962 / 0811-262-3838

AMANJIWO RESORTS
Address: Ds. Majaksingi, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Phone: +62 293 788 333

AS JAVA
Address: Jl Prawirotaman No. 29, Yogyakarta, Indonesia
Phone: +62 274 376 311 / +62 818 0403 3310

YOGYATOURIUM / DAGADU JOGJA
Address: Jl. Gedongkuning Selatan 128, Yogyakarta, Indonesia
Phone: +62 274 375 591

GENDHIS
Address: Jl. Ringroad Barat RT. 03 / RW. 24, Ngawen, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55291, Indonesia
Phone: +62 274 315 6959 / +62 274 649 9151

GENETIKA CONCEPT STORE
Address: Lobby Level Greenhost Hotel. Jl. Gerilya (Prawirotaman II) No. 629, Yogyakarta, Indonesia

PUJI BATIK
Address: Jl. Prawirotaman No.42, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta 55153. Indonesia
Phone: +62 817 5424 480

BATIK SOENARDI
Address: Jl. Malioboro No. 95, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta 55122. Indonesia
Phone: +62 274 582 569

TRION GALLERY
Address: Jl. Malioboro No. 35, 37, 39, Sosromenduran, Gedong Tengen, Yogyakarta 55271. Indonesia
Phone: +62 817 445 837

VIAVIA
Address: Jl. Prawirotaman No. 30, Yogyakarta 55153. Indonesia
Phone: +62 274 386 557

MIROTA BATIK
Address: Jl. Jendral Ahmad Yani No.9, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta 55122. Indonesia
Phone: +62 24 588 524


JAKARTA
CHIC MART
Address: Jl. Kemang Raya No. 55, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12730, Indonesia
Phone: +62 21 719 7813

PLAZA BALI
Address: 3rd Floor Wisma Soewarna Suite K – R, Soewarna Business Park. Soekarno – Hatta International Airpot. Jakarta, Indonesia
Phone: +62 21 559 11511

TERASMITRA
Address: Jl. Bacang II No. 8, Kramat Pela, Jakarta Selatan 12130, Indonesia
Phone: +62 21 720 6125,  +62 21 727 905 20

Revolusi Mental untuk Pelestarian Budaya

Perlu ada revolusi mental dalam upaya pelestarian budaya tradisi di Nusantara. Seperti apa dan mengapa perlu revolusi mental dalam pelestarian budaya? Sebelum kutuliskan gagasan ku, aku ingin menanyakan ini pada mu;
Apa yang terlintas di benakmu pertama kali ketika mendengar kalimat "Pelestarian Budaya?" Mempelajari, menggelar pertunjukan, dan mengapresiasinya?
Ya, hal-hal itu juga merupakan bagian dan salah satu upaya untuk melestarikan budaya. Aku pun pada awalnya, hanya memikirkan hal-hal tersebut untuk melestarikan budaya. Namun ternyata tidak hanya itu! Ada hal lain yang lebih urgent untuk dilakukan. 

Salah satu hal urgent yang perlu dilakukan untuk melestarikan budaya tradisi di Nusantara adalah pencataan atau pendataan budaya secara digital. Mengapa? Coba bayangkan, Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulan, 1.200-an suku bangsa, dan 726 bahasa memiliki berapa banyak kekayaan budaya? Ribuan? Puluhan ribu? Ratusan ribu? Atau mungkin bahkan jutaan? Sayangnya, minim sekali informasi budaya yang ada di tanah Nusantara tertulis dan terekam dengan lengkap.

Sobat Budaya, melakukan revolusi mental dalam hal pelestarian budaya dengan melakukan upaya pendataan budaya secara masif dalam Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) yang bisa diakses di laman budaya-indonesia.org. Pendataan budaya ini dilakukan secara gotong royong dengan ribuan masyarakat, hingga terkumpul 33.045 data budaya saat ini. PDBI ini pun dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai referensi informasi budaya Nusantara. Nah, bagaimana denganmu? Siapkah ikut serta dalam revolusi mental pelestarian budaya?

Home Page budaya-indonesia.org

Ketika Pengetahuan Budaya Indonesia Menjelma Dalam Kode-Kode Nusantara

Dua tahun belakangan ini aku sedang berkutat dengan isu-isu budaya di Nusantara. Banyak informasi dan fakta-fakta mencengangkan yang kutemukan. Siapa sangka Indonesia yang awalnya hanya familiar dengan lima pulau terbesar, memiliki 17.000 kepulauan, 1200 suku bangsa, 726 bahasa daerah dan mungkin ada ratusan ribu atau bahkan jutaaan kekayaan budaya yang tersimpan rapi dalam setiap jengkal tanah nusantara?

Sobat Budaya telah mengumpulkan 5.689 motif batik di Nusantara, 1.500 data kuliner tradisional dan 600an lagu daerah di Nusantara. Semuanya tercatat di Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) dan masih ada 33.000 data budaya lainnya yang bisa kita baca dan pelajari. Selain di PDBI, kita bisa juga mempelajari pengetahuan budaya tersebut di mobile apps; Map of Batik, Indo Muse dan Nusa Kuliner, yang bisa diunduh secara gratis di play store dan app store.

Dengan banyaknya informasi budaya yang telah terdata, kini Sobat Budaya bersama Bandung Fe Institute menuliskan sebuah buku "Kode-Kode Nusantara: Telaah Sains Mutakhir atas Jejak-jejak Tradisi di Kepulauan Indonesia." Buku ini banyak mengulas tentang pengetahuan yang tersembunyi dan sering kali terlupakan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Menyelami Kode-Kode Nusantara
Dalam Kode-Kode Nusantara, kita bisa menyelami filosofi, makna dan perlambangan atas simbol-simbol yang tersisip dalam setiap budaya tradisi di Nusantara. Ketika membaca buku ini, aku serasa menyelami kisah cinta Ratu Kencana kepada Sunan Pakubawana III Surakarta Hadiningrat. Ratu Kencana merasa ditinggal oleh Sunan Pakubawana III karena kesibukannya di kerajaan dan hadirnya para selir baru.

Motif Batik Truntum
Sumber
Ratu Kencana menuangkan rasa kesepian, kegalauan dan cinta kasihnya kepada Sang Sunan, melalui taburan bintang dalam kanvas langit malam dan bunga tanjung yang digambarkan menjadi kain batik truntum. Ketika Sang Sunan melihat Ratu Kencana sedang membatik di bawah langit malam yang penuh bintang, penuh semilir angin malam yang membawa harum bunga tanjung, Sang Sunan kembali jatuh hati dan jatuh cinta pada Ratu Kencana. Hingga kini, motif batik truntum menjadi sebuah perlambangan atas rasa cinta kasih, kesetiaan dan keharmonisan dalam sebuah hubungan insan manusia. Motif batik truntum ini seringkali digunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa.

Fakta lain yang mencengangkan tentang batik adalah, terdapat rumus matematika fraktal dalam setiap motif batik yang dibuat oleh nenek moyang kita!
#KodeNusantara Menjadi Bukti Pentingnya Pendataan Budaya

Satu hal lain yang juga menarik perhatianku dalam buku ini adalah Situs Megalitikum Gunung Padang. Orang awam, hanya akan melihat Situs Gunung Padang sebagai hamparan batu yang ada di daerah Cianjur. Padahal Situs Gunung Padang merupakan situs megalitikum tertua di Asia, dan sesungguhnya, di balik hamparan batu ini, terdapat kumpulan batu yang merupakan jam matahari dan kumpulan batu yang dinamai batu gamelan yang menjadi sumber suara pentatonik f"-g"-d"-a. 

Situs Gunung Padang
Sumber

Bertandang Menyusuri Situs Gunung Padang
Mari, ikut menyelami dan menyusuri pengetahuan di balik kekayaan budaya tradisi kita melalui Kode-Kode Nusantara :)

The Beauty of Indonesian Batik!

Sejak tahun 2009, bangsa Indonesia senantiasa memperingati Hari Batik setiap tanggal 2 Oktober. Ya, batik Indonesia mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai "warisan budaya dunia tak benda" sejak 2 Oktober 2009. Sejak saat itulah, kain batik Indonesia semakin dikenal di dunia manca negara, bahkan brand internasional, semacam Adidas menggunakan pola dan motif batik dari Indonesia sebagai komoditi dagangnya.

Siapa sangka, dibanding selembar kain batik, tersimpan makna dan filosofisnya masing-masing. Misalnya saja, motif batik truntum yang digoreskan oleh Kanjeng Ratu Kencana sebagai tanda penantian dan kisah cintanya yang tulus murni kepada sang suami, Sultan Pakubuwana III Surakarta Hadiningrat, pada abad ke-18 silam. Goresan bintang dan bunga tanjung dalam kanvas langit malam yang bernuansa biru menjadi simbol romantika cinta antara dua insan manusia, bahkan hingga sekarang. Motif-motif batik penuh makna! 

Sedikit demi sedikit aku mengenali makna-makna motif batik ini sejak bergabung dengan Sobat Budaya. Ada fakta menarik dan mencengangkan lainnya tentang batik! Coba tebak, kira-kira seberapa banyak motif batik di Nusantara? 10? 100? 1000? Sejauh ini terdapat 5.689 motif batik di Nusantara yang telah terdata di PDBIAmazing!

Kini, batik juga semakin digemari oleh kalangan muda, tentunya dengan mode fashion yang modern. Beragam rancangan busana yang menarik kini populer dan menjadi busana yang elegant. Kebetulan sekali, aku mendapat undangan dari Indosat Ooredoo dalam helatan acara "The Beauty of Indonesian Batik."

Dalam acara ini disuguhkan live painting batik yang menarik. Selain itu, digelar juga ajang fashion show kain-kain batik nusantara serta dress-dress cantik nan elegan kolaborasi Indosat Ooredoo dengan batikology.org. 

Batikology ini merupakan laman khusus yang dibuat oleh Indosat Ooredoo untuk mengapresiasi karya anak bangsa. Portal ini dijadikan sebagai portal informasi seputar batik dan juga menjadi wadah antar-komunitas, tokoh batik, tipe membatik dan hal-hal lain seputar batik.

Berikut cuplikan kemeriahan acara "The Beauty of Indonesian Batik"

Cuplikan Acara The Beauty of Indonesian Batik

Batik Live Painting
Batik Fashion Show by Indosat Ooredoo Staff
Batik Dress
Motif Batik Cirebon / Bunga
Koleksi Ibu Aang Kunaefi (1955)
Motif Garutan / Kleur Lereng
Pembatik Ibu Moekson / Epon
Koleksi Ibu Aang Kunaefi (1956)
Motif Garutan / Bilik
Pembatik Ibu Epon
Koleksi Ibu Aang Kunaefi (1959)

Motif Batik Merak Kasmaran
(Batik Pekalongan)
Koleksi IbuSativa Sutan Azwar


                      <img src="http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=ea0e1582dce08fa74cda26f25be66efc786b9ef9&_host=cvlturetraveler.com" width="1" height="1">
                    

Ancaman Kepunahan dan Klaim Budaya Indonesia

10 Persen dari 726 Bahasa Daerah Indonesia Punah!
Tercatat 33 Kasus Klaim Budaya Indonesia Sejak 2008!

Sumber: Antara News


Sumber: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Antara Pesta Dolanan, Broadcating Class dan KUBBU

“In any moment of decision, the best thing you can do is the right thing. The worst thing you can do is nothing" - Theodore Roosevelt

Kita hidup dalam dunia yang penuh pilihan. Baik atau buruk, bermanfaat atau tidak, tergantung dengan masing-masing persepsi orang. Dan aku berdiri di atas banyak pilihan pada satu momen yang penting.

Sabtu 27 Agustus lalu, aku alpa dalam pertemuan Klub Buku dan Blogger Backpaker Jakarta (KUBBU BPJ) karena aku bersama dengan teman-teman Komuitas Sobat Budaya serta Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia menjalankan program tahunan kami Pesta Dolanan Nasional 2016.

Sebuah program yang bertujuan untuk melestarikan budaya tradisi, serta edukasi anak melalui permainan tradisional. Dalam rangkaian acara ini, terselenggara lomba olahraga tradisional dengan cabang olahraga egrang, tarompah panjang (bakiak), lari balok, hadang (benteng/galasing), lomba tari tradisional, tarik tambangl, lomba menyanyi tradisional serta lomba fashion show. Tak hanya itu, terselenggara pula talkshow mengenai pentingnya permainan anak bagi edukasi dan tumbuh kembang kreativitas anak.


Permainan Egrang


Permainan Tarompah Panjang (Bakiak)

Tim Sobat Budaya di Pesta Dolanan 2016

Pun, pada hari Sabtu, 3 September, aku lagi-lagi alpa dalam pertemuan KUBBU BPJ karena aku ikut serta dalam pelatihan Broadcasting bersama Belajar Radio dan Prambors FM.

Teman-teman Broadcasting Class dan Tim Prambors FM

Sejak tahun 2014, aku memang mulai melirik dunia broadcasting dan ingin menjadi announcer. Sehingga aku seringkali mengikuti kelas-kelas public speaking dan broadcasting. Kenapa? Selain ingin mewujudkan keinginan hasrat announcer, kemampuan public speaking adalah sebuah modal yang bagus dan wajib dimiliki sekarang ini. Apalagi, dunia kerjaku erat dengan kebutuhan skill komunikasi serta public speaking.

Beragam pilihan ada di depan mata, dengan beragam manfaat dibaliknya. Dan kita harus pandai memilih di antara banyak pilihan. Setelah ini, aku akan memilih pertemuan dengan KUBBU BPJ untuk meningkatkan wawasan dan skill dalam dunia menulis dan blogging tentunya.

Sampai jumpa pada pertemuan bulan berikutnnya KUBBU!

<span data-iblogmarket-verification="DcQaxpoFFnCX" style="display: none;"></span>