Ada Revolusi Mental Saat Traveling!

Banyak manfaat yang aku rasakan dari traveling, salah satunya revolusi mental. Sebetulnya, beberapa tahun silam, aku tipikal orang yang pendiam dan relatif memiliki pergaulan yang terbatas. Tapi, semua itu kian berubah sekarang ini. Banyak hal yang menyebabkan hal tersebut, salah satunya traveling.

Aku memulai traveling pertama kali tahun 2013, dan mulai sering menjalaninya di akhir tahun 2014. Dan begitu banyak perubahan yang lebih baik yang ku rasakan. Semakin terbuka, easy going, fleksibel, open minded, menambah pertemanan dan jejaring serta semakin menguatkan karakter dan menambah keberanianku dan tentunya kebahagiaan yang selalu rupa-rupa rasanya di setiap perjalanan.

Teman-teman traveling
Dua pria ini, Made dan Adit, baru aku temui di Jogja dan mereka berbaik hati menemani dan mengantar aku dan Rance berwisata di Kota Jogja. Pertemuan singkat yang hanya beberapa jam, tidak membuat ku kikuk, kaku dan takut dengan mereka. Bahkan, aku merasa dekat dan akrab dengan mereka. Banyak topik yang kami perbincangkan selama perjalanan, mulai dari aktivitas sehari-hari kami, hobi, dunia arsitektur dan ketertarikan kami pada budaya. Dari perjalanan-perjalanaku ini, aku merasakan revolusi mental yang kentara. Traveling, mengajarkan ku tentang keterbukaan, keberanian, kesopanan, kebahagiaan dan persahabatan.

Bahagia Edisi Jogja!

Revolusi Mental untuk Pelestarian Budaya

Perlu ada revolusi mental dalam upaya pelestarian budaya tradisi di Nusantara. Seperti apa dan mengapa perlu revolusi mental dalam pelestarian budaya? Sebelum kutuliskan gagasan ku, aku ingin menanyakan ini pada mu;
Apa yang terlintas di benakmu pertama kali ketika mendengar kalimat "Pelestarian Budaya?" Mempelajari, menggelar pertunjukan, dan mengapresiasinya?
Ya, hal-hal itu juga merupakan bagian dan salah satu upaya untuk melestarikan budaya. Aku pun pada awalnya, hanya memikirkan hal-hal tersebut untuk melestarikan budaya. Namun ternyata tidak hanya itu! Ada hal lain yang lebih urgent untuk dilakukan. 

Salah satu hal urgent yang perlu dilakukan untuk melestarikan budaya tradisi di Nusantara adalah pencataan atau pendataan budaya secara digital. Mengapa? Coba bayangkan, Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulan, 1.200-an suku bangsa, dan 726 bahasa memiliki berapa banyak kekayaan budaya? Ribuan? Puluhan ribu? Ratusan ribu? Atau mungkin bahkan jutaan? Sayangnya, minim sekali informasi budaya yang ada di tanah Nusantara tertulis dan terekam dengan lengkap.

Sobat Budaya, melakukan revolusi mental dalam hal pelestarian budaya dengan melakukan upaya pendataan budaya secara masif dalam Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) yang bisa diakses di laman budaya-indonesia.org. Pendataan budaya ini dilakukan secara gotong royong dengan ribuan masyarakat, hingga terkumpul 33.045 data budaya saat ini. PDBI ini pun dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai referensi informasi budaya Nusantara. Nah, bagaimana denganmu? Siapkah ikut serta dalam revolusi mental pelestarian budaya?

Home Page budaya-indonesia.org

Chef’s Premium Collection: Suguhan Rasa Baru dari Domino’s Pizza

Kamu suka makan pizza? Apa menu favorit mu? Kalau aku suka banget pizza yang isinya tuna dan mozzarella! Enak banget! Nah, baru-baru ini aku cobain beberapa varian rasa pizza baru. Dan, aku menemukan rasa favorit baru selain tuna!

Minggu lalu aku main-main ke Domino’s Pizza dan ternyata ada tujuh menu pizza yang baru dikeluarkan yang diberi nama Chef's Premium Collection. Selain pizza, ada juga tiga menu dessert juga yang sayang kalau kita lewatkan! Kira-kira ada rasa baru apa saja ya? Let’s check this out!

Menu pertama, Loaded Meatzza rasa pizza baru yang isinya beef pepperoni, beef rasher, beef black pepper, beef crumble dan BBQ sauce.

Loadead Meatzza

Buat pecinta sayur dan buah, kamu patut mencoba Grand Extravaganza meyuguhkan topping beef rasher, beef pepperoni, zaitun hitam, paprika hijau, bawang Bombay, tomat, nanas, parsley dan keju mozzarella. 

Grand Extravaganza

Nah menu baru favoritku nih, Tandoori Chicken! Pizza cita rasa dari India mengkombinasikan saus kari, ayam tandoori, saus rahitta, paprika hijau, bawang Bombay dan keju mozzarella.

Tandoori Chicken

Buat pecinta seafood kamu bisa pilih menu Spicy Garling Prawn yang menawarkan paduang udang segar dengan rustic sauce, bawang bombay, tomat, parsley dan keju mozzarella.

Spicy Garling Prawn

Bagi para vegetarian, ada menu baru yang cocok buat kamu, Veggie Deluxe yang menawarkan perpaduan kelezatan dari jamur, zaitun hitam, paprika hijau, nanas, bawang bombay, dengan keju feta dan topping mozzarella.

Veggie Deluxe

Dan yang paling unik dan menarik nih, ada kolaborasi pizza dengan cita rasa nusantara! Beef Rendang dan Ayam Bakar menjadi dua menu baru yang terinspirasi dari kuliner Indonesia. Daging rendang yang lezat, paprika hijau, bawang bombay dan keju mozzarella menciptakan cita rasa Beef Rendang yang unik dan kuat. Kita juga bisa menikmati perpaduan rasa ayam bakar yang gurih, bawang bombay, parsley dan keju mozzarella dalam pizza Ayam Bakar!

Beef Rendang

Ayam Bakar

Tandoori Chicken dan Spicy Garling Prawn jadi menu favoritku, kalau kamu pilih yang mana?

Peach Tea x Taro Milk! Kamu tim yang mana?

Inovasi tujuh menu baru yang masuk kategori menu Chef’s Premium Collection ini merupakan upaya dari Domino’s Pizza untuk memuaskan keinginan para pelanggan. Para pelanggan ingin mendapatkan pizza dengan topping yang lebih banyak dan kombinasi cita rasa lokal.

“Kami selalu berupaya untuk memberikan produk terbaik bagi pelanggan kami dan kami membuat perubahan baru yang signifikan di menu kami berdasarkan masukan dari mereka. Chef’s Premium Collection dikembangkan oleh Chef internal kami dengan menggunakan bahan baku premium seperti daging rendang, ayam tandoori, ayam bakar, beef rasher. Kami berharap menu baru kami ini dapat memuaskan selera pelanggan kami,” ujar Patrick McMichael, Chief Domino’s Pizza.

Domino’s juga mengeluarkan tiga menu dessert baru, dan salah satunya juga mengkombinasikan dengan cita rasa nusantara! Dessert baru yang bisa kita cicip yaitu Chocolate Brownie, Chunky Choc-Chic Cookie (kukis dengan isi choco chips) dan Martabak Chocolate Cake, perpaduan jajanan khas dan popular di Indonesia yang dimasak dengan gaya barat.

Chunky Choc-Chic Cookie

Martabak Chocolate Cake
Chocolate Brownie

“Semua orang menyukai coklat dan dessert sebagai makanan penutup yang lezat setelah makan. Domino’s Pizza menghadirkan pilihan dessert baru sebagai penutup makan yang manis. Seperti halnya pizza kami yang baru dibuat setelah pemesanan, kami juga menyajikan dessert hangat karena fresh from the oven,” jelas McMichael.


Cuplikan Peluncuran Menu Chef's Premium Collection


Nah dengan sederet menu baru tadi, kamu yang berada di Jakarta, Bali dan Bandung akan mendapatkan diskon 10% untuk pemesanan menu-menu ini. Selamat mencicipi suguhan rasa baru Domino’s Pizza ya!


Kalau mau tahu lebih lengkap tentang menu baru dan promo menarik dari Domino's pizza silakan kunjungi sosmednya ya!

Twitter @dominos_id
Instagram @dominos_id

Ada Kota Kuno di Banten!


Selama ini ku kira, Banten ya Banten saja, tapi ternyata ada kota kuno juga di Banten! Aku baru tahu ini pas di ajak Derus buat piknik ke Banten Lama. Saat itu aku reflek bertanya, "hmmm Banten Lama? Ada ya?! Apa bedanya sama Kota Banten?" Dan jawabannya bakal kamu temukan di cerita perjalananku kali ini ya! :p

Kota Kuno Banten atau Banten Lama merupakan wilayah yang berisi situs-situs sisa kejayaan Kerajaan Banten. Ada banyak spot yang bisa kita telusuri di Kota Kuno Banten ini, misalnya saja Istana Surosowan, Masjid Agung Banten, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu dan Vihara Avalokitesvara. Dan aku menyambangi semuanya! Seruuu!

Waktu itu aku bersama dengan Derus, Mas Achy, Lala, Mas Yoga dan Mas Ocit dari Jakarta ke Banten Kuno. Destinasi pertama yang kita datangi adalah Istana Kaibon. Konon, penamaan Kaibon untuk istana ini karena istana ini dibangun untuk ibu Sultan Syafiudin, Ratu Aisyah. Dan kata kaibon bermakna keibuan. Di antara, situs-situs lain yang ada di Banten Lama, bisa dibilang reruntuhan Istana Kaibon ini adalah situs yang memiliki peninggalan arsitektur yang paling baik di antara yang lain. Bangunan-bangunan yang bersisa masih bisa kita lihat dengan jelas bentuknya dan terlihat lebih kokoh di banding situs-situs lain.

Istana yang awalnya dibangun dengan megah ini, runtuh dan dihancurkan pada tahun 1832 oleh Belanda saat terjadi peperangan melawan Kerajaan Banten.

Di belakang kami ada Gerbang Keraton Kaibon yang masih utuh bentuknya

Selanjutnya, Benteng Spellwijk. Benteng ini dulu berfungsi sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda. Selain itu, Benteng Spellwijk juga dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan meriam dan alat pertahanan Kerajaan Banten. Di sini juga terdapat sebuah terowongan, konon terowongan ini adalah terowongan sebagai jalur rahasia menuju Keraton Surosowan.

Di Lorong-lorong Benteng Speelwijk

Benteng Spellwijk

Selain wisata sejarah dan situs kerajaan kita juga bisa menyambangi Masjid Agung Banten. Masjid ini juga menjadi salah satu wisata religi bagi umat muslim di Indonesia. Saat aku sampai di masjid ini, aku menjumpai banyak umat muslim yang melakukan ziarah di area pemakanan masjid. Pemakaman ini menjadi komplek makan Sultan-Sultan Banten dan keluarganya. Selain itu, para pengunjung juga mengikuti ritual pengajian di balai Masjid Agung Banten, mirip dengan kondisi yang ku temui di Masjid Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Sejarahnya, masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulanan Hasanuddin, Sultan pertama Kesultanan Demak, yang merupakan putra sulung dari Sunan Gunung Jati. 

Menara Masjid Agung Banten

Kubah Masjid Agung Banten

Yang khas dari dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip dengan pagoda Tiongkok, seperti yang bisa dilihat di foto. Dan ternyata, masjid ini adalah karya arsitektur Tiongkok yang bernama Tjek Ban Tjut.

Kebetulan sekali saat kami menjelajahi Kota Kuno Banten, bertepatan dengan Perayaan Tahun Baru China, 28 Januari. Dan pas sekali momennya ketika kami menyambangi Vihara Avalokitesvara. Vihara ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia. Lokasinya yang tak jauh dari Masjid Agung Banten, diyakini menjadi bukti bahwa pada saat itu penganut agama yang berbeda dapat hidup berdampingan dengan damai.


Vihara Avalokitesvara

Ada juga Museum Kepurbakalaan Banten Lama. Aku antusias sekali untuk masuk ke dalam musem ini dan melihat beragam koleksi purbakala banten lama. Sayangnya di museum ini tutup di akhir pekan. Jadi, aku hanya bisa melihat koleksi-koleksi yang dipajang di halaman luar museum ini. Di antara beberapa koleksi yang dipajang di luar museum ada dua koleksi yang paling terkenal yaitu Meriam Ki Amuk dan alat penggilingan lada.

Meriam Ki Amuk

Meriam Ki Amuk adalah meriam yang dibuat dari tembaga dengan tulisan Arab. Panjangnya sekitar 2,5 meter adalah bantuan senjata dari Ottoman Turki. Konon, meriam ini memiliki kembaran yakni Meriam Ki Jagur, yang saat ini tersimpan di halaman belaang Museum Fatahillah Jakarta.

Penggilingan Lada

Alat penggilingan lada yang kita jumpai di halaman Museum Kepurbakalaan Banten Lama terbuat dari batu padas yang sangat keras. Namun, alat ini telah hancur menjadi beberapa bagian. Pada jaman dulu, Banten terkenal sebagai daerah penghasil lada, karena alasan inilah Belanda datang ke Banten untuk menguasai produksi lada. 

Hari sudah semakin sore, dan perut kami semakin keroncongan! Akhirnya kami berlabuh ke destinasi terakhir, Pelabuhan Karangantu, untuk melihat perahu dan senja di Kota Kuno Banten sembari menikmati semangkok bakso untuk mengganjal perut yang kelaparan, hahaha.


Piknik ala-ala di Pelabuhan Karang Antu :p

Perjalanan kali ini adalah salah satu One Day Trip yang lumayan jauh, menyambangi banyak destinasi, dengan perjalanan panjang dari pagi hari hingga dini hari. Satu hal yang harus diperhatikan untuk menjalani one day trip adalah kita harus jadi mandiri mempersiapkan segalanya, mulai dari air minum dan perbekalan, uang cash dan uang receh, kamera, sun block, kacamata, topi, payung, kipas yang sewaktu-waktu pasti akan kita butuhkan.

Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs www.jadimandiri.org.

Maros, Tempat Jelajah Kars Terbesar di Indonesia

Kamu tahu ga tentang kars? Aku sendiri baru tahu tentang kars baru-baru ini pas jalan-jalan ke Maros, Makassar!
Ternyata kars adalah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup, drainase permukaan dan gua. Daerah kars terutama dibentuk oleh pelarutan batuan, dan kebanyakan berupa batu gamping.

Dan, Indonesia punya wilayah kars terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok! Yakni di Maros, Makassar. Ada beberapa tempat wisata di wilayah Maros yang berupa kars. Beberapa yang ku kunjungi saat kesana adalah Taman Batu Selerang, Taman Prasejarah Leang-leang, Bisseang Labboro (Bislab) dan Rammang-rammang.

Kisah perjalananku kali ini penuh cerita, teman, tawa dan kebahagiaan karena bisa berjumpa dengan teman-teman yang ku kenal sejak 2014, hanya via chatting! Hahahaha

Destinasi pertama, Taman Batu Selerang! Taman batu ini merupakan pegunungan kars di Maros, Pangkep, Makassar. Ketika menyusuri trek perjalanan ke taman batu ini, kita sudah bisa melihat batu-batuan yang menjulang tinggi dari kejauhan. Dan taman batu ini tergolong, pegunungan kapur satu-satunya di Indonesia yang terluas dan terbesar nomor dua setelah Batu Tsingy di Madagaskar! Keren ya!


4 dari 5 Temanku ini baru kutemui di Makassar! :D
(Ssst, masih banyak batuan kars di Taman Batu Selerang yang lebih tinggi dibanding background foto kami! :p)

Ayo, kita melanjutkan perjalanan. Destinasi selanjutnya adalah Taman Prasejarah Leang-Leang! Taman ini adalah objek wisata yang menyuguhkan banyak gua prasejarah dan menyimpan peninggalan arkeologis yang unik dan menarik! Dari bahasa setempat, "leang-leang" juga memiliki arti "gua" loh! Oke, nambah lagi ya kosa kata bahasa daerah yang bisa ku pelajari dari perjalanan kali ini :p.

Selamat datang di Leang-Leang!

Salah satu Gua di Kawasan Taman Prasejarah Leang-Leang

Selanjutnya ada tempat wisata kars yang unik dan menarik nih. Karena ada legenda di balik tempat wisata ini! Namanya Bisseang Laboro (Bislab).  Bislab merupakan kawasan wisata alam di Pattunuang. Ketika memasuki kawasan ini kita diajak untuk menjelajah ke dalam hutan. Dan akan kita temui sungai, tebing, dan gua-gua alam di sepanjang perjalanan. Biasanya, Bislab dijadikan sebagai tempat camping, climbing dan caving.

Di antara semua destinasi wisata yang ku kunjungi, Bislab adalah destinasi yang punya trekking cukup melelahkan! Selain perjalanan yang panjang, dan naik-turun, serta tanah yang basah dan licin, kita harus belajar jadi mandiri di sini. Bersiap dan berhati-hati di setiap trek perjalanan serta direkomendasikan untuk menggunakan sepatu sport atau sendal gunung ya untuk meminimalisir tergelincir dan gunakan backpack lebih baik.

Nah, di kawasan ini kita akan menjumpai tiga batu besar yang menyerupai bentuk perahu. Batu-batu ini menyimpan legenda yang unik! Konon, di jaman dulu, seorang saudagar dari Tiongkok datang untuk melamar dan memersunting gadis Samangki. Namun, karena lamarannya ditolak, Saudagar tersebut merasa malu dan akhirnya mengkaramkan perahunya. Menjadi batulah perahu ini, dan disebut-sebut sebagai "Bisseang Labboro" oleh masyarakat Samangki yang artinya "Perahu Terdampar."

Konon, batu besar di belakang kami adalah perahu Saudagar Tiongkok

Destinasi terakhir adalah destinasi favoritku selama perjalanan kali ini, Rammang-rammang!  Rammang berasal dari Bahasa Makaasar, artinya awan atau kabut. Jadi, rammang-rammang artinya sekumpulan awan atau kabut. Menurut cerita penduduk setempat, nama tersebut dibuat karena awan atau kabut yang selalu turun di pagi hari atau ketika hujan.

Gugusan pegunungan kars ini dapat kita sambangi di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupatan Maros. Di Rammang-rammang, kita bisa menyusuri gugusan pegunungan ini menggunakan kapal melalui jalur sungai. Dan ada banyak spot menarik yang dapat kita singgahi selama perjalanan di Rammang-rammang, seperti hutan batu kapir, telaga Bidadari, Gulu Bulu Barakka, Gua Telapak Tangan, Gua Pasauang, Sungai Pute dan Kampung Berua. 


On Boat!

Sisi di kanan-kiri ini adalah Karst yang bisa kita jumpai selama perjalanan sungai di Rammang-Rammang
Kampung Berua
Kafe dan Penginapan di Rammang-Rammang

Nah, terakhir rasa sayang dan terimakasih untuk semua teman-teman Sobat Budaya Makassar yang telah menemani aku dan Fahri berwisata di Makassar! Untuk Suci, Vera, Asdia, Barong, Ka Tok, Rifaul, Eki, Ipin, Efendi, and the most lovely one, Sri! Serta semua teman-teman Sobat Budaya Makassar lainnya :)

Salam Persahabatan dari Jakarta untuk Teman-teman Makassar :*


Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs www.jadimandiri.org.