Menyibak Rahasia Wisata di Balik Alas Purwo

Alas Purwo, sebuah hutan yang membentang di ujung tenggara Pulau Jawa. Tepatnya berada di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo.

Apa sih yang kita bayangkan sekilas jika mendengar kata alas atau hutan dalam bahasa Indonesia? Sekilas, aku membayangkan tempat yang gelap, seram, menakutkan dan tak selayaknya menjadi destinasi wisata. Sebagian dari kamu juga akan berpikir begitu bukan?

Tapi, bagaimana dengan Alas Purwo? Demikian kah? Setelah aku menjelajah hutan ini dari ujung ke ujung, it's totally not, totally different with what I thought before :)

Yuk kita sibak keindahan dan keunikan Alas Purwo!




Kayu yang telah meranggas dan siap di tebang, bagian hutan ini dikelola oleh Perhutani


Sisa akar kayu yang telah ditebang


Salah satu jenis tumbuhan yang hidup di Alas Purwo

Ketika kita memasuki bagian depan Alas Purwo di sisi kiri dan kanan jalan kita akan menemui pepohonan dan ladang tumbuhan, jika beruntung kamu juga akan menemui beragam hewan yang tinggal di sini. Saat itu aku menemui gerombolan monyet dan dua ekor burung merak betina.

Lalu, ada apa lagi ya di balik Alas Purwo ini? Penasaran? Mari kita lanjutkan perjalanan!


Selamat Datang di Taman Nasional Alas Purwo!

Di sisi kiri pintu masuk, terpajang Patung Banteng, yang memang banteng menjadi salah satu icon Kota Banyuwangi, dan juga sebagai salah satu hewan langka yang dilindungi. Sedangkan di sisi kanan, terpajang Patung seorang pria yang bermain surving. Karena di dalam Alas Purwo ini terdapat beberapa pantai yang menarik untuk dikunjungi dan seringkali dijadikan tempat bermain surving :).


Ketika memasuki bagian ticketing kita disambut dengan Gapura yang kental akan nilai Hindu


Lihat Burung Merak itu nampak malu-malu!


Sampailah kita di hamparan Savanna Sadengan :D


Lihat! Ada kawanan Banteng Betina!


Selain menjadi tempat konservasi fauna, Sadengan juga menjadi tempat konservasi flora. Tanaman lumbu ini salah satunya.


Wah di Pos Penjaga terpajang Tengkorak Kepala Banteng dan Bulu Burung Merak loh!

Ada cerita menarik apa ya di Savanna Sadengan ini?
Savanna Sadengan ini ternyata, satu-satunya feeding ground yang berhasil dikembangakan di Taman Nasional Alas Purwo untuk mengembangkan populasi banteng loh! Feeding ground Pancur dan Payaman gagal dikembangkan karena tidak terdapat sumber air dan hanya menjadi jalur lintas satwa. Wahhh,,, Savanna Sadengan harus benar-benar dijaga yah kalau tidak beragam flora dan fauna yang dilindungi akan punah :(

Selain banteng ada beberapa jenis fauna lain loh yang dikembangkan disini, misalnya burung merak, lutung/siamang dan coyote/ajag/anjing hutan. Ajag ini rupanya seperti anjing hanya saja ekornya menyerupai ekor tupai dan berwarna putih.


Sampai Jumpa Savanna Sadengan di lain waktu :)

Waaaahh,,, ini belum seberapa loh dari beragam tujuan wisata yang bisa kunjungi di Alas Purwo! Jangan terburu lelah! Mari lanjutkan perjalanan and explore the forest!

Siapa yang suka berkemah dan main pantai! Di sini tempat yang cocok buat kamu!


Selamat Datang di Pancur Camping Ground!




I am ready to camp here! How about you?

Sebelumnya, sudah aku sebutkan kan kalau Pancur dulunya dikembangkan untuk Feeding Ground dan konservasi flora fauna, namun karena gagal, Pancur dijadikan sebagai tempat berkemah. Dan banyak orang yang berkemah ke sini. Kebetulan Pancur menjadi titik pemberangkatan jika kita ingin menuju G Land atau Pantai Plengkung. Katanya, Plengkung ini indah dan menarik dan wajib dikunjungi kalau ke Alas Purwo! Ah sayangnya, aku tak bisa kesana, karena harus ke beberapa destinasi wisata yang lain :(

Tapi, jangan sedih! Sebelum meninggalkan Alas Purwo aku sempat menyambangi Pulau Trianggulasi! Duh namanya, susah ya untuk diingat dan diucapkan! Tapi tidak dengan view-nya!






Kalau kamu mau menikmati liburan yang damai dan menenangkan di Pantai Trianggulasi, di sini juga tersedia Guesthouse loh :))

Yuppppppp,,, kita masuk sesi destinasi wisata yang terakhir ku kunjungi di area Alas Purwo! Dan aku paling excited dengan bangunan, budaya dan sejarah yang melingkupi tempat ini!


Situs Kawitan


Pura Luhur Giri Salaka

Ini dia tempat yang paling misterius dan ingin ku ulik lebih dalam tentang kisah, sejarah dan peradabannya dahulu kala! Konon, Situs ini adalah pura tertua di Tanah Jawa, dan menjadi sejarah Hindu-Jawa di tanah ini. Penasaran dengan sedikit kisah yang berhasil ku ulik tentang Situs ini yuk baca Kisah Hindu-Jawa di Ujung Timur Pulau Jawa
.

Usai sudah aku menjejakkan langkah kaki ku di Alas Purwo! Tempat ini, layak untuk menjadi wish list destinasi wisata mu loh! Satu tempat beragam wisata!

Menelusuri Kisah Hindu-Jawa di Ujung Timur Pulau Jawa

Sudah tahukah kamu di mana ujung timur Pulau Jawa?
Banyuwangi! Ya, Banyuwangi adalah daerah paling timur dari kawasan Pulau Jawa.
Kebanyakan orang mengenal Banyuwangi karena Gunung Ijen, dan sayang sekali masih teramat sedikit orang yang mengenal Situs Peradaban Hindu Jawa di kota ini.

Siapa sangka, "The Sunrise of Java" menyimpan Situs tertua di Pulau Jawa yang merupakan Peradaban Hindu Jawa tertua di Pulau ini.

Kira-kira di mana ya Situs itu? Kebetulan hari ini aku telah meng-explore situs ini bersama rombongan FAM TRIP Kemenparekraf, So, Let's check it out!


Yup! Ini Dia Situs Kawitan, Situs Tertua di Tanah Jawa

Jadi gimana ya ceritanya tentang Situs Kawitan ini?

Konon ceritanya, Pada masa Kerajaan Majapahit ketika melakukan penyebaran agama Islam, para pemeluk agama Hindu yang tak mau beralih agama, menyingkir dari wilayah kekuasan Majapahit di Tanah Jawa, ke dalam hutan, di area Banyuwangi Selatan, yang kini menjadi area Alas Purwo. Para pemeluk agama Hindu ini mendirikan Pura di Situs Kawitan ini. Lebih jauh lagi, masyarakat Hindu Jawa ini juga bergeser ke Bali.

Kawitan sendiri dari bahasa Jawa yang berarti awal atau asal mula. Karena pura ini adalah pura yang pertama di tanah Jawa sebelum ada pura-pura lain yang dibangun. Masyarakat Hindu di area Alas Purwo diyakini sebagai masyarakat Hindu Jawa tertua di Indonesia.


Situs Kawitan Tampak Depan (Telah Dipugar)


Area Persembahan


Meja Persembahan


Persembahan


Pintu Gerbang Kerajaan Metafisik (Kerajaan di Alam Lain), (Bebatuan ini Masih Asli)

Situs Kawitan ini juga menjadi wisata religi bagi masyarakat Hindu Bali. Seringkali masyarakat Hindu Bali bertandang ke situs ini setiap momen/ritual keagamaan dan juga pada malam-malam bulan purnama.

Para masyarakat Hindu Bali yang melakukan ritual keagamaan di Situs Kawitan akan singgah di Pura Luhur Giri Salaka yang berlokasi beberapa ratus meter dari Situs Kawitan.




Pura Luhur Giri Salaka Tampak Depan


Uang Bolong yang terpasang di wajah patung ini menandakan telah diadakan upacara di tempat ini. Uang bolong merupakan uang Bali atau disebut juga uang benggol


Bale Pertemuan


Rumah Singgah para wisatawan religi dari Bali

Usai sudah secuil cerita tentang situs Hindu Jawa di Alas Purwo! Nantikan cerita-cerita unik dan seru lainnya yang tersembunyi di Alas Purwo ;)

Mencapai Puncak Gunung Ijen!

Dini hari ini, 10 Mei 2016, aku bersama rombongan dari Kementrian Pariwisata bersiap menuju Gunung Ijen untuk melihat pesona Blue Fire dan Kawah Ijen, yang menjadi salah satu icon destinasi wisata Kota Banyuwangi.

Jujur saja, aku bukanlah seorang pendaki gunung. Pernah sekali aku mendaki Gunung Parang, dan tak sukses mencapai puncak. Awalnya, sempat terpikir keraguan untuk menjajal menaiki Gunung Ijen.

Namun, aku berniat mencoba dan melangkahkan kaki pertamaku di Paltuding menuju Puncak Gunung Ijen.

Paltuding, Kawasan Rest Area Kawah Ijen, sekaligus Pos 1 Pendakian Gunung Ijen

Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2, bagiku sudah sangat melelahkan dan sempat mengalami kram di paha dan sedikit sesak nafas. Aku berhenti untuk beristirahat dan mengambil nafas panjang, beruntung sekali aku berjalan bersama Mas Ain, Ketua Rombongan kami, yang dengan sabar membantu dan menemaniku selama perjalanan naik ke atas puncak Gunung Ijen.

Perlahan tapi pasti aku dan Mas Ain menapaki jalanan, tentu di tengah perjalanan pun, sempat terpikir untuk berhenti dan kembali lagi ke Paltuding. Ah tapi, sayang sekali sudah menyusuri setengah perjalanan dan harus kembali lagi.

Jika, kamu adalah seorang pendaki gunung dan sudah terbiasa meng-explore gunung, estimasi waktu yang dibutuhkan hingga sampai ke puncak sekitar 1,5-2 jam. Karena aku seorang amatir aku mencapai puncak Gunung Ijen dalam waktu 3 jam. Sungguh, diperlukan sekali seorang partner dan teman perjalanan yang loyal dan siap men-support kita hingga Puncak dan turun kembali dengan selamat.

Hari mulai menampakkan sinar mentari, dan kami telah sampai di balik puncak Gunung Ijen

Sampai di Pos 4 Gunung Ijen!!!

Dan akhirnya sampai jumpa di Puncak Gunung Ijen! Yeaayyyyyyy!!!

Pemandangan Kawah Ijen

Finally I made it :D, How happy I am!

Kawah Ijen berwarna hijau dan mengepulkan asap belerang. Kabut putih yang terbidik dalam gambar merupakan asap belerang. Kawah ini pun lah yang mengeluarkan blue fire, sayangnya karena kabut dan cuaca, dini hari ini para pendaki tak bisa menangkap view blue fire.

Thanks to Mas Ain who support and help me along climb the Ijen Mountain :))

Bersama Rombongan Blogger dan Kemenparekraf

Bersama Pendaki Mancanegara

Secuil Pemandangan Tanah, Bebatuan dan Kayu-kayu yang berada di Kawasan Gunung Ijen

Dalam perjalanan pendakian kita akan kerap kali bertemu penambang belerang.

Penambang Belerang

Bentuk Belerang Asli

Souvenir Belerang

Belerang ini bisa digunakan untuk menggosok badan ketika mandi. Khasiatnya, dipercaya untuk mengobati penyakit kulit seperti gatal-gatal dan panu. Sebuah souvenir dihargai sekitar Rp. 10.000,00. Kalau kamu ingin membuktikannya, silakan mencoba :D

Sudah puas memandang keelokan Puncak Gunung Ijen! Mari menuruni bukit. Dalam perjalanan pulang pun kita akan menemukan pemandangan-pemandang yang belum sempat kita lihat saat mendaki karena gelapnya malam.

Ketika berjalan pulang, kita akan disajikan dengan pemandangan Gunung Meranti :)

Jalan setapak jalur pendakian Gunung Ijen didereti berbagai macam pohon.

Ketika mendaki kamu akan kerap kali menemui penjual jasa trolley yang akan membantumu untuk naik atau menuruni Gunung Ijen

Nah buat kamu yang ingin mendaki Gunung Ijen, di Paltuding juga tersedia guest house bisa menampung para pendaki. Karena jumlahnya terbatas sedangkan peminatnya banyak, seringkali guest house ini penuh. Jadi siap-siap untuk memesannya jauh-jauh hari ya sebelum mau ke Ijen :)

Dan bersyukur sekali aku telah sampai di Paltuding!






Sensasi Menari Gandrung

Gandrung? Apa ya itu?

Sejenak, yang terlintas di benakku mengenai gandrung adalah, sebuah ejaan bahasa Indonesia yang bermakna sangat rindu, tergila-gila karena asmara, atau sangat ingin (mendambakan). Tapi, tunggu dulu, Gandrung yang ku maksud di sini, bukanlah hanya sebuah ejaan kata, melainkan salah satu tarian khas yang berasal dari daerah Banyuwangi.

Setelah ditelisik dengan berbincang langsung bersama Pak Sucipto, yang merupakan tokoh adat Suku Using, Banyuwangi, dan Pak Ridho, Kabid Pariwisata Disparta Banyuwangi, ternyata pada awalnya tarian Gandrung ditarikan oleh seorang lelaki dan digunakan sebagai media perjuangan melawan penjajah. Para penjajah amat mengagumi tarian ini sehingga terlena dan lengah, kesempatan inilah yang diambil untuk berjuang melawan mereka.

Namun, seiring berkembangnya jaman, tarian Gandrung ini ditarikan oleh perempuan yang kemudian dikenal sebagi Gandrung Semi. Semi, adalah penari perempuang Gandrung pertama di Banyuwangi dan menjadi icon tari Gandrung yang ditarikan oleh kaum hawa.

Setelah ditarikan oleh kauh hawa, tarian ini menjadi amat terkenal di tanah Banyuwangi dan menjadi icon kota ini. Hampir di setiap sudut kota ini, kita akan menemukan patung Gandrung yang terpajang menyambut para tamu dan masyarakat Banyuwangi.

Kebetulan sekali, saat ini aku sedang mengunjungi Banyuwangi dalam rangkaian Tour de Ijen Banyuwangi 2016 bersama rombongan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kami datang langsung ke Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, yang merupakan Desa Adat Suku Osing, suku asli masyarakat Banyuwangi.

Pada momen ini kami di sambut dengan tarian Barong Prejeng dan Tari Gandrung.

Pada awalnya, dua gadis menarikan Tari Gandrung Jejer dalam sesi pembukaan. Kemudian berlanjut ke Tari Gandrung Maju / Ngibing. Nah, pada saat ini lah salah seorang penarinya mengenakan selendang tarinya di leher ku dan mengajak ku menari bersama mereka.


Jadilah aku ikut berlenggok menari Gandrung

Ajakannya untuk menari seketika di depan masyarakat Banyuwangi dan Rombongan Kemenparekraf tentu mengejutkan! Namun, aku menikmati setiap irama dan lenggokan yang kita lakukan bersama :D


Blog Sharing: Daerah Tujuan Backpacker dan Tips Ngeblog

Selasa malam, 26 April lalu, aku menjadi moderator untuk sesi sharing di Klub Buku dan Blogger (KUBBU) Backpacker Jakarta. Dan sedikit info, Backpacker Jakarta itu komunitas jalan-jalan yang sistemnya share cost. Jadi, kita purely patungan untuk segala kebutuhan dan pengeluaran trip yang kita ikuti. Para panitia maupun pengurus Backpacker Jakarta ini tidak mengambil untung apa pun dari kegiatan jalan-jalan yang diselenggarakan. Seru ya! Dan yang pasti ini bermanfaat sekali untuk kita para backpacker :D

Jika tertarik untuk gabung dan mau mengulik lebih dalam tentang Backpaker Jakarta silakan kunjungi websitenya di Backpackerjakarta.com ya.

Nah, lanjut. Apa sih KUBBU itu? KUBBU itu, klub yang dibentuk oleh anggota Backpacker Jakarta untuk mewadahi anggota-anggota Bakcpaker Jakarta yang punya hobi menulis dan ingin belajar untuk mengembangkan minatnya tersebut. KUBBU ini resmi terbentuk pada bulan Desember 2015. Dan kebetulan, aku hadir dan ikut serta dalam acara Kopdar Akbar dan Peresmian KUBBU ini :))

Di KUBBU kita tidak hanya membahas blog, tapi juga buku, sejarah, sastra dan tentunya traveling.

Okay, fokus pada sesi Blog Sharing malam itu.
Blog Sharing kali ini mengangkat tema "Daerah Tujuan Backpacker dan Tips Ngeblog" bersama Mas Salman.

Mas Salman ini memiliki nama panjang Salman Faris dan Blog nya bisa dikunjungi di salmanbiroe.com & bluepackerid.com ya :)


Berikut cuplikan sesi sharing malam itu:

Q: Web Mas Salman kan ada di salmanbiroe.com & bluepackerid.com ya, web nya Sudah dibuat sejak kapan ya? Dan tema apa saja sih yang mas Salman tulis?

A: Untuk salmanbiroe.com sebetulnya blog lama dari tahun 2011, tapi baru rubah ke top level domain 2015 awal. Nah kalau bluepackerid.com baru di April 2015 baru lahir. Temanya banyak banget, semua hal bisa masuk kesini, bisa dibilang lifestyle blog. Sedangkan karena saya suka banget jalan-jalan maka bluepackerid.com sku khususin tulisan tentang traveling. Mulai ngeblog tahun 2004, waktu itu blog pertama masih di blog indosiar, terus ke multiply, sempat mampir ke tumblr dan rumah terakhir di blogspot.

Q: Alasannya Mas Salman pertama Kali terjun ke dunia blogging apa sih mas?

A: Alasan ke dunia blogging ada dua : satu pengen mencurahkan isi hati melalui tulisan di blog dan yang kedua ingin terkenal gara2 karya yang di blog. Kalau yang lain itu mah bonus aja.

Q: Mas Salman kan suka jalan-jalan ya? Menurut mas, kriteria daerah tujuan yang menarik Untuk dikunjungi apa sih?

A: Kriteria daerah tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi bisa dari alamnya, sejarah atau budaya dan kuliner yang khas, Dan ditunjang dengan masyarkat di daerah tujuan yang wlecome terhadap pendatang atau turis dan yang utama juga akses atau transportasi ke tujuannya.

Q: Nah mas Salman, apakah mas selalu menuliskan pengalaman jalan-jalannya di web mas? Bagaimana proses menulisnya?

A: Pasti akan saya tulis di web/blog saya, tapi karena kesibukan dan lain hal, saya hanya dapat menceritakan hanya per bagian-bagian saja, kadang saya lihat dari topik mana yang menarik dan masih dalam ingatan saya.

Q: Apa saja sih hal-hal yang harus tertulis di web / blog kita ketika ingin menuliskan cerita kita, khususnya Untuk pengalaman traveling mas?

A: Bagaimana prose's menulisnya? Proses menulis kembali kedalam blog, biasanya saya selalu memotret seluruh hal yang menarik sepanjang perjalanan, bahkan saya suka merekam pakai camera beberapa part yang menarik dan bisa merecall kembali pada saat saya akan menulisnya. Oh selain video, saya juga suka merekam wawancara dengan beberapa orang misalnya ketua adat atau kepala desa dll.

Kalo saya biasanya pakai 5 W 1 H, setelah semua hal terpenuhi, biasanya saya menarik benang merah, hubungan antara satu tempat dengan tempat lain. Selain benang merah, kemudian saya menarik satu atau dua kejadian yang unik dan lain daripada pengalaman orang lain. Misalnya saat ke Uluwatu, ternyata saya menangkap momen monyet yang mengambil sandal jepit seorang gadis. Bisa juga pengalaman konyol, menyenangkan atau tragis bisa jadi bumbu2 dalam tulisan.

Q: Nah, Hal-hal apa saja sih mas yang dicari dan menarik pembaca? Sehingga pembaca mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan kita?

A:Pembaca biasanya sangat ingin membaca pengalaman personal kita pada saat ke tempat wisata, bahkan cerita saya ke jepang sendirian pun direspon dengan bagus karena sangat personal dan tidak melulu membahas tempatnya saja.

Q: Selama ini, Bagaimana cara mas salman menyebar informasi tentang tulisan mas salman kepada netizen?

A: Social Media adalah salah satu hal penting dalam menyebarluaskan tulisan kita. Melalui social media, teman dekat, keluarga dan pembaca mendapatkan update tentang tulisan. Disamping itu saya tergabung dalam beberapa komunitas, saya sering share tulisan saya ke seluruh komunitas tersebut. Begitu pentingnya socmed tersebut. Oh iya, jangan malu untuk menyebar tulisan di socmed dan komunitas, karena dengan menyebarkan tulisan kita maka peluang lain akan terbuka, misalnya dilirik brand tertentu.

Q: Apa sih manfaat yang didapat oleh Mas Salman selama terjun di dunia blogging?

A: Manfaatnya 1) banyak teman blogger 2) tulisan kita dibaca banyak orang karena bisa diakses oleh siapapun 3) mendapatkan benefit jika dimonetize 4) bisa jalan-jalan gratis 5) kenal banyak orang diluar blog dan masih banyak lainnya.

Q: Pengalaman menarik apa yg mas alami di dunia blogging?

A: Banyak sekali pengalaman sih, terutama bisa jalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia, kemudian ketemu sama artis idola gara2 mereview filmnya, kemudian bisa kenal pejabat penting dan direktur perusahaan besar seperti samsung dll, serta bisa bertemu pejalan-pejalan lain dari berbagai daerah keren.

Q: Mas salman , boleh kah memberikan tips ngeblog yang bisa kita pelajari?

A: Tips untuk ngeblog adalah 1) mulai saja, tulisan belum bagus ngga masalah karena akan berproses 2) pelajari tulisan blogger yang menurut kamu bagus dan setelah mempelajari modifikasi sesuai dengan style tulisan kamu 3) konsisten, ini yang paling penting, karena kalau nunggu mood untuk nulis bisa2 hanya 1 atau 2 tulisan setiap tahun. Bisa nulis seminggu sekali kalau masih berat dua minggu sekali dan kalau masih berat juga minimal 1 bulan sekali.

Wah, sesi sharing yang bermanfaat sekali dan banyak antusiasme dari anggota KUBBU Backpacker Jakarta tentunya! Berlanjut ke sesi diskusi dengan para anggota nih. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang terlontar selama sharing berlangsung:

Pertama, pertanyaan dari Mas Achy; "blog yg isinya random bs dikategorikan lifestyle blog ya?"

A: Bisa saja mas, Lifestyle bisa mencakup semuanya, dan walaupun blog gado2, bisanya ada satu tema yang sering ditulis, nah biasanya ini yang akan menjadi niche dari blognya, lifestyle lebih condong ke traveling atau kuliner.

Kedua, Pertanyaan dari Kak Zhao; "Untuk membuat judul tulisan harus menarik kah? Atau harus kontroversial? Supaya menarik viewers?"

A: Untuk Judul tulisan, sebetulnya saya juga kurang ahli dalam membuat judul yang bombastis, tapi biasanya saya siasati dengan isi tulisan yang lumayan menarik. Karena konten bisa menarik pembaca, daripada judul yang bombastis tapi isinya kurang. Namun kalo bisa membuat judul dan tulisannya menarik itu lebih bagus. Mengenai yg kontroversial, saya biasanya bahas kalau memang pernah saya alami atau memang memiliki pengetahuan di tema yang kontrovesi tsb.

Kalau kita belum kenal blog mungkin jg males baca kontenny kalo judul kurang menarik, mungkin foto bisa diandalkan.

Ketiga, pertanyaan dari Bu Fadlun; "Mas salman kan punya dua blog, nah memanage ngisinya bagaimana?"

A: saya biasanya menulis minimal sekali 2 kali sebulan untuk satu blog, jadi total 4 kali dalam sebulan. Untuk memanage, saya biasanya menulis materi yang ada saja, misalnya blog salmanbiroe.com dalam sebulan bisa 3, dan bluepackerid.com hanya satu, dan komposisinya bisa berubah, tapi setidaknya satu bulan harus posting berapa.

Keempat, Pertanyaan dari Mba Titis; "Mas Salman pernah kena writer blocks atau gak mood nulis gak? Bisa share tipsnya? Makasih"

A: Semua blogger atau penulis pernah mengalami ini, biasanya aku escape from daily routine dulu, misalnya yang simple tiap hari makan di warteg bu Dita, maka saya ubah makan di bakso mang ade, misalnya mainnya di mall terus kita sekali kali mampir ke sawah deket rumah temen misalnya, kalau kurang baca bisa baca yang lucu2 dulu break dari hal yang membuat pikiran kita stress dan tegang baru, biasanya kalau melakukan diluar rutinitas banyak ide2 baru. Setelah dapat ide maka baru nulis lagi, tapi jangan lama2 writer blocknya. Oh iya, sering baca blog2 orang bebeda kalau pas lagi writer block.

Kelima, Pertanyaan dari Mas Mukti; " Bagaimana supaya bloger bisa rajin posting?"

A: Supaya rajin ngeblog, balik lagi kepertanyaan tujuan awal ngeblog apa? mau tenar? mau dapat duit? Atau sekedar hobi? Kalau saya ngeblog sudah menjadi bagian yang dimonetize dan kearah profesional sehingga blog harus perform bagus. Selain itu, cita-cita saya bisa keliling Indonesia atau Dunia murni dari blog. Jadi mau ngga mau harus rajin ngeblognya. Kalau pas lagi ngga semangat ngeblog, bisanya saya lhat blogger2 keren yang bisa keliling Indonesia melalui blognya, pas lihat mereka maka motivasi saya kembali lagi dan ngeblog lagi deh. hahaha :))

Keenam, Pertanyaan dari Mba Nancy; " Kalau judul ga menarik apa bisa membuat orang baca blog kita?"

A: Okay, judul ngga menarik tapi traffic postingan "Berkeliling Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta" (http://www.bluepackerid.com/2015/05/berkeliling-museum-benteng-vredeburg.html) bisa mengalahkan postingan dengan judul yang cukup menarik "“Tragedi” Monyet, Menikmati Senja dan Menonton Tari Kecak di Uluwatu, Bali" (http://www.bluepackerid.com/2016/04/Menonton-Tari-Kecak-Uluwatu-Bali.html) . Jadi ngga usah khawatir ngga ada yang baca gara2 judulnya biasa atau standar, yang penting isinya bisa membuat pembaca betah berlama-lama. Justru kalau kita ngga pernah mencoba berbagai model judul dan tulisan maka ngga akan tahu juga kan. Yang penting nulis dulu, judul bisa belakangan, atau bisa dibikin sesimple mungkin.

Ketujuh, Pertanyaan dari Kak Ifal; "Apakah penting tampilan blog dan SEO?"

A: Penting, tapi kalau bagi yang mulai ngeblog, jangan sampai terpaku pada SEO terlebih dahulu, misalnya 3 bulan pertama tampilan blog masih biasa, tapi isi sudah rutin dan banyak pembaca, boleh pada bulan ke 4-6 memperbaiki penampilan blog, kalau sudah bagus blog baru beralih ke SEO. step by step, jangan dipikirin semuanya pas mau bikin blog, malah nanti ngga jadi ngeblog. Oh iya, jangan lupa kalau mampir ke blog orang tinggalkan komen biar dikomen balik, kalaupun ngga dikomen balik setidaknya ada pembaca yang akan mampir melalui link kita di blog orang tersebut.


Nah, dengan berakhirnya sesi diskusi usai sudahlah sesi Blog Sharing malam itu di KUBBU Backpacker Jakarta. Nantikan, review Sharing-sharing lainnya ya :))






























Menelisik Keheningan Gua "Sunyi Raga"

Gua Sunyi Raga? Apa ya itu?
Penasaran ingin tahu keunikan Gua Sunyi Raga? Let's explore the prawn city!

Sabtu pagi, 9 April aku mempersiapkan diri berangkat ke Stasiun Senen menuju Stasiun Cirebon Prujakan. Perjalanan kali ini aku berangkat bersama seorang teman dari Komunitas Sobat Budaya, Fahri namanya. Selama di Cirebon kami akan mengeksplore beberapa tempat dan objek budaya yang terkenal di Kota Udang ini.

Pagi itu, aku amat tergesa karena mengejar keberangkatan kereta pagi. Ditambah suasana hati yang kurang nyaman untuk bepergian. Awalnya, langkah kaki ini sungguh terasa berat, dan suasana hati yang murung sungguh tak membantu selama perjalanan. Baru akan duduk di kursi kereta, aku sudah menumpahkan segelas kopi panas. Sungguh pagi yang tak bersahabat...

Ahh, sudah, aku ingin meninggalkan pikiran yang carut marut dan mempersiapkan diri mengeksplor Cirebon!

Setelah semalaman kami menonton Pagelaran Tari "Lima Wanda Panuluh Caruban," pagi ini kami bersiap mengekplor Gua Sunyaragi dan Keraton Kanoman. Let's go!


Welcome to Goa Sunyaragi !!!

Gua Sunyaragi, seringkali juga disebut sebagai Taman Air Sunyaragi, atau Tamansari Sunyaragi. Kata Sunyaragi sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. "Sunya" berari sepi atau sunyi, dan "Ragi" yang bermakna "raga." Gua Sunyaragi ini memang dibangun dan dimanfaatkan untuk menyendiri, menyepi, beristirahat dan bermeditasi oleh para Sultan Cirebon dan keluarganya.

Gua ini berada di di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, dan komplek Gua ini menyerupai Candi. Ada beragam candi, kaputren, kaputran dan bale-bale di dalem komplek Gua ini. Dan gua ini menjadi salah satu objek cagar budaya di Kota Cirebon.

Yang menarik dari gua ini adalah gua ini meniru model Gua Hiro yang digunakan oleh Nabi Muhammad untuk menyendiri dan mencari ilham dari Allah SWT. Selain itu, berbeda dengan gua-gua pada umumnya, gua ini terbuat dari batu karang.


Ini dia batu karang yang menyusun komplek Gua Sunyaragi

Penasaran seperti apa Gua Sunyaragi? Let's check it out the view!


Komplek Gua Sunyaragi


Di belakang ku itu Bale Kambang loh :)

Dan uniknya lagi arsitektur gua ini mendapat banyak pengaruh budaya dari gaya Indonesia Klasik, hindu, China atau Tiongkok kuno, Timur Tengah dan Islam serta gaya Eropa. Saat mengitari komplek ini, aku bisa merasakan sentuhan gaya hindu, islam dan China nya loh!

Nah seperti apa ya sentuhan-sentuhan budaya itu? Ya Seperti ini:


Monumen China


Bangunan yang di atas sana, adalah tempat untuk mengumandangkan Adzan :)


Gua Padang Ati

Nah, ini adalah gua yang paling menarik perhatianku. Gua Padang Ati, berasal dari bahasa Jawa, yang artinya, terangnya hati. Sungguh, ketika keberangkatan menuju Cirebon, hati ini dipenuhi rasa carut marut, ketika menemukan gua ini aku merasa tersentil. Memang, sungguh kita membutuhkan ketenangan, untuk menjernihkan pikiran dan menerangkan hati kita ini. Dari perjalananku kali ini, aku sungguh menyadari, bahwa sesi refleksi diperlukan untuk menenangkan hati dan pikiran.

Sampai jumpa Cirebon! Selamat bertemu lagi pada kesempatan yang lain :D

Nah, terakhir aku mau kasih beberapa cuplikan view dari Komplek Gua Sunyaragi ini ya:


Gua Lawa


Salah satu sisi Gua Sunyaragi


Kamar Kaputran


Kamar Kaputren